Breaking News:

Agenda Politik Melaju Meski Virus Corona Belum Berlalu; Refleksi di Tahun Politik 2020

Garis finish tahun politik semakin dekat. Pilkada serentak 9 Desember 2020 akan berlangsung di 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota.

TRIBUN MANADO
ilustrasi Pilkada 

Oleh: R Giring Malabo*

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Garis finish tahun politik semakin dekat. Diskusi, hingga sedikit gaduh politik meningkat. Pilkada serentak 9 Desember 2020 akan berlangsung di 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Pilkada diikuti 270 daerah, 1 di antaranya Pilkada Kota Makassar yang diulang pelaksanaannya.

Semakin ke sini tiada hari tanpa bicara atau komentar yang berbau politik. Entah sekedar iseng bernuansa politik, mengenalkan profil Paslon, hingga blak-blakan minta dukungan atau ajakan untuk memilih Paslon tertentu. Di cafe, medsos, Tv, koran2, media digital n di radio--politik pemilihan semakin ramai diomongkan. Seperti jamur bertumbuhan di musim hujan.

Di satu sisi, kita tak bisa menampik rasa kawatir terkait ancaman virus korona (Covid-19). Data menunjukkan, di Kalbar, kemaren (22 Oktober): positif 1.497, sembuh 1.267, meninggal 10. Dari 34 provinsi di Indonesia, penambahan kasus baru di Kalbar hari ini berada di urutan ke-16 terbanyak. Data ini berdasarkan Laporan Media Harian Covid-19 yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes, Kamis 22/10/2020), hingga pukul 12.00 WIB.

Data di atas adalah pesan bahwa semua pihak tak terkecuali para Paslon, pendukung dan simpatisannya mesti lebih keras lagi menegakkan imbauan otoritas kesehatan di masa kebiasaan hidup baru. Bila gagal beradaptasi, maka Kalbar bersiap2 kembali ke zona merah.

O ya, kembali ke topik awal. Bahkan persoalan terkait dugaan korupsi, keadaan infrastruktur pelayanan publik dan kebijakan pemerintah di masa lalu, maupun di masa pandemi Covid-19 ini, tak luput terpapar virus politik. Virus politik banyak digandrungi akhir2 ini. Nyaris semuanya dikaitkan dengan politik.

Baca juga: KPU Ajak Media Bantu Sosialisasikan Tahapan Pilkada Sambas 2020

Tapi, hiruk pikuk politik adalah hal biasa dalam negara demokrasi. Warga biasa yang semula acuh tak acuh, apatis, kini pun semangat memberikan komentarnya atau melempar persoalan/isu tertentu di akun medsosnya. Harapannya bisa diketahui atau direspon publik, juga oleh para kandidat dan Parpol yang berkompetisi.

Rupanya, kemajuan teknologi IT digital menjadi saluran pengaduan yang paling favorit digunakan, tanpa peduli ke mana afiliasi politiknya. Mereka tak perlu mendatangi atau minta dikunjungi para pengurus parpol, para Paslon dan elite politik.

Bagaimana agar simpati dan hati masyarakat bisa diraih untuk dukungan suara bagi Paslon? Di sinilah tim pemenangan peserta Pemilu serentak 2020 bekerja cerdas dan keras memaksimalkan kapasitas masing2 dalam teknologi digital dan jaringannya hingga ke akar rumput. Peran Medsos dan media digital tak bisa diremehkan, meski hanya bisa untuk masyarakat di daerah yang terjangkau akses sinyal dan infrastruktur infokomnya.

Tinggal bagaimana kepiawaian mengelolanya lagi. Melalui Medsos, misalnya, kini individu, mulai dari ibu rumah tangga hingga pegawai profesional dan kelompok2 tertentu terbuka sekali untuk menjadi corong bagi para kandidat dan Parpol peserta Pemilu. Atau sebaliknya, ada yang justru memberikan masukan maupun kritiknya. Dari sifatnya, ada konten yang sopan biasa2 saja hingga konten yang sarkastis. Ada yang membawa angin alias hoaks, juga kabar nyata di facebook, twitter, whatssap dan instagram.

Halaman
12
Editor: Haryanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved