Breaking News:

Bantah Kabar Hamzah Haz Meninggal Dunia, PPP: Alhamdulillah Bapak Baik-baik Saja, Saudaraku

Kondisi terkini Hamzah Haz, Wakil Presiden (Wapres) ke-9 RI disampaikan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Editor: Haryanto
YouTube / Sekretariat Presiden via Kompas.com
Wapres RI ke-9, Hamzah Haz. 

Namun ia harus menyudahi pekerjaannya baik sebagai guru maupun wartawan ketika ia harus pindah ke Yogyakarta bersama sang ayah yang merupakan anggota Koperasi Kopra.

Hamzah Haz akhirnya kuliah di Akademi Koperasi Negara di Yogyakarta sampai lulus pada tahun 1965.

Lulus dari Akademi Koperasi Negara, Hamzah Haz pulang ke Pontianak untuk melanjutkan studinya di Universitas Tanjungpura pada 1965.

Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa, sejak 1965 sampai 1970, Hamzah Haz juga ditunjuk menjadi Ketua Badan Pemeriksa Induk Koperasi Kopra Indonesia.

Ia juga sempat mengajar di kampusnya sejak 1968 sampai 1971, sebelum akhirnya ia terjun lebih serius ke dunia politik.

Karier politiknya dimulai ketika ia masih aktif mengajar di almamaternya. Di samping mengajar, Hamzah Haz merupakan Ketua Presidium KAMI Konsulat Pontianak dan mewakili angkatan 66 di dalam DPRD Kalimantan Barat sampai tahun 1971.

Di samping semua itu, ia juga pernah menjadi Wakil Ketua DPW Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat pada 1971 (1).

Terpilih menjadi Anggota DPR RI, Hamzah Haz kemudian pindah ke Gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta sejak 1971 mewakili Nahdlatul Ulama.

Hamzah Haz terpilih sebagai Anggota DPR RI secara terus menerus selama beberapa periode setelah NU dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) melebur menjadi PPP.

Hamzah Haz juga beberapa kali menjadi pengurus PPP, puncaknya ia terpilih sebagai Ketua Umum DPP PPP pada akhir 1998.

Di tahun yang sama, Hamzah Haz juga menjabat sebagai Menteri Investasi / Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di bawah kepemimpinan Presiden B. J. Habibie yang menggantikan Suharto.

Namun pada 10 Mei 1999, Hamzah Haz kemudian mengundurkan diri dari jabatannya. Alasannya, ia ingin fokus memimpin PPP dalam pemilu 1999.

Ketika Abdurrahman Wahid diangkat menjadi presiden menggantikan B. J. Habibie, Hamzah Haz kembali menduduki kursi menteri. Ia diangkat sebagai Menko Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan pada 29 Oktober 1999.

Namun ia hanya menjabat selama 2 bulan. Dia beralasan ingin konsentrasi pada partainya, PPP.

Keluar dari kabinet Gus Dur, Hamza Haz menjadi kritikus yang vokal terhadap pemerintah. Namun di samping itu, ia juga terkenal sebagai politikus yang lihai berkompromi.

Menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di partai terbesar ketiga di parlemen saat itu membuat Hamzah Haz ditunjuk sebagai wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri pada 26 Juli 2001 (3).

Sebelumnya, untuk meraih kursi wakil presiden ia harus bersaing dengan kandidat lain yang juga cukup kuat seperti Akbar Tandjung, Susilo Bambang Yudhoyono, Agum Gumelar, serta Siswono Yudo Husodo.

Sebelum diangkat menjadi wakil presiden, pada 1999 ia pernah mengatakan bahwa tidak ada wanita yang cocok untuk memimpin negara muslim terkemuka di dunia.

Namun dua tahun berselang, ia menjadi wakil presiden mendampingi wanita yang ia kritik dua tahun sebelumnya.

Hamzah Haz juga yang menggagalkan diangkatnya Megawati sebagai presiden, padahal partainya keluar sebagai pemenang pemilu saat itu. Hamzah Haz memanfaatkan kekuatan suara muslim untuk menggagalkan Megawati menjadi presiden pada 1999.

Pada Pemilu 2004, Hamzah Haz merupakan salah satu kandidat calon presiden berpasangan dengan Agum Gumelar. Namun diantara lima kandidat, suaranya adalah yang paling buncit, yakni hanya sebesar 3 persen suara saja.

Hamzah Haz juga dikenal memiliki hubungan yang dekat dengan kelompok-kelompok muslim militan. Hal ini dia lakukan untuk mendapat dukungan politik dari mereka (3).

Hal ini terlihat dari kedekatannya dengan Abu Bakar Bashir, terutama sebelum tragedi bom Bali terjadi. Ia pernah membuat acara terbuka untuk mengundang Bashir makan malam, ia juga mengunjungi pesantren jihadis Bashir di Pondok Ngruki.

Hamzah Haz sempat membantah bahwa Abubakar Bashir terlibat dalam jaringan terorisme, hingga akhirnya pada Oktober 2002 Abubakar Bashir ditangkap.

"Jika Anda ingin menangkap Abu Bakar Bashir," katanya seperti dikutip sebelum penangkapan Bashir, "Anda harus berurusan dengan saya terlebih dahulu,” ujar Hamzah Haz dikutip dari upclosed.com.

Saat ini Hamzah Haz lebih fokus menikmati masa tuanya bersama keluarga besarnya. Dari 2 orang istrinya, ia memiliki 12 orang anak dan 30-an orang cucu. (*)

Artikel ini sebagian telah tayang di Kompas.com dengan judul PPP Bantah Kabar Hamzah Haz Meninggal Dunia dan TribunnewsWiki.com dengan judul Profil Hamzah Haz - Politisi dan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-9

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved