Anggota PHRI Terdampak Covid-19, Tutup Hotel dan Jual Properti
Kami bahkan sudah merumahkan karyawan. Ada yang hari ini masuk, besok tidak. Ada yang seminggu masuk, seminggu tidak.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Covid-19 memberikan pukulan besar terhadap para pengusaha hotel dan restoran di Kalbar. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar, Yuliardi Qamal mengungkapkan, dampak Covid-19 sangat berpengaruh pada anggotanya saat.
“Ada beberapa anggota saya yang sudah tidak sanggup. Benar-benar tidak sanggup untuk melaksanakan kegiatan jasanya. Ada beberapa anggota saya yang malahan sampai tutup, yang menjual propertinya juga ada,” ungkap Ketua PHRI Kalbar Yuliardi Qamal kepada Tribun saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Patuh Protokol Kesehatan di Masa Pandemi Covid -19 secara virtual, Rabu 14 Oktober 2020.
Yuliardi menyatakan, semua upaya sudah dilakukan anggotanya untuk bertahan. “Kami bahkan sudah merumahkan karyawan. Ada yang hari ini masuk, besok tidak. Ada yang seminggu masuk, seminggu tidak. Sudah pandai-pandai kami bertahan. Dengan cara itulah kami bertahan dan alhamdulilah karyawan dan managemen mau dan memahami hal ini,” lanjutnya.
Ia menyebut, bahkan ada anggotanya yang terpaksa beralih profesi. “Ada kawan saya yang dulunya pemandu wisata, sekarang jualan ikan. Bukan bidangnya lagi. Siapa yang mau dipandu. Tak ada tamu-tamu yang datang dari luar,” ungkapnya.
Pengusaha perhotelan, kata Yuliardi, tak bisa hanya mengandalkan pendapatan dari penyewaan kamar.
“Kalau kami di perhotelan, kalau mengandalkan tamu tidak bisa. Kami harus ada tambahan dari kegiatan wedding, kegiatan rapat. Itu baru bisa menutupi biaya operasional,” paparnya.
Baca juga: Cegah Penyebaran Covid-19, Kades Ambawang Dukung Upaya Puskesmas Tutup Sementara Beberapa Layanan
Ia melakukan survei pada anggota PHRI terkait tingkat hunian, dan hasilnya mengejutkan. “Ada yang cuma laku lima kamar, ada yang tujuh bahkan ada yang hanya dua kamar. Kemarin sempat naik hingga 50 persen. Kemudian ada informasi pembatasan waktu. Saya bilang kepada kepala daerah agar perhipunan kami mendapat kelonggaran. Diberikan penanganan khusus, karena terbukti di sektor saya tidak ada menyumbang klaster baru,” paparnya.
Yuliardi mengatakan, PHRI gencar melakukan sosialisasi protokol kesehatan kepada anggotanya. Penerapan 3M yakni memamai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan sudah diberlakukan.
“Kalau di usaha kami sudah dilakukan 4M. Pakai masker, cuci tangan, dan social distancing sudah kami lakukan. Bahkan kami tambahannya termometer gun. Itu kami lakukan,” lanjutnya.
Ia bangga pada anggota PHRI. Semau imbauan PHRI dipatuhi anggota. “Sampai saat ini tidak kedengaran klaster baru dari usaha anggota saya yang bergerak di bidang jasa dan perhotelan, jasa akomodasi, serta jasa makanan dan minuman,” lanjutnya.
Yuliardi memilih berdamai dengan Covid ini. “Bukan soal berani. Saya takut juga. Tetapi maksud saya berdamai dengan Covid di sini yakni kegiatan perekonomian tetap jalan. Penerapan protokol kesehatan dilakukan dengan benar dan ketat. Kami jalankan dan terbukti, itu tadi. Pelaksanaan 3M ini sesuatu yang sangat mudah. Pakai masker, cuci tangan, dan social distancing. Tapi namanya manusia kalau tidak diberikan sanksi, kita lalai,” paparnya.
Ia mendorong aparat dan intansi terkait menjalankan sanksi yang sudah ditetapkan, bahkan pada anggota PHRI yang membandel.
“Saya sudah imbau ke anggota saya. Kalau ditemukan di tempat anggota saya, kasih sanksi. Kalau organisasi yang membebankan sanksi, beda. Kalau pemerintah ada pembinaan dan sanksi,” katanya.
Ia menambahkan, “Kenakan sanksi, misalnya dengan memberikan peringatan pertama, kedua dan ketiga. Kalau tidak bisa, binasakan. Tutup. Saya lebih mau dikatakan berdamai. Teman-teman saya bilang, maaf kalau perkataan ini tak sopan. Kita bukan mati karena Covid-19, tapi mati karena tak makan. Ini kan bahaya.”
Ia mengatakan, pengusaha resto juga terdampak Covid-19. “Orang makan, dulunya bisa duduk, sekarang dibatasi cuma dibungkus kemudian bawa pulang. Kalau ini berjalan terus, kita tak tahu kepastiannya kapan. Saya dengar ada informasi baru, saya lihat di televisi Bapak Presiden Jokowi menyatakan vaksin sudah ketemu. Ini berita menyenangkan,” jelasnya.
Ia berharap Covid-19 segera berlalu dengan rencana penyuntikan vaksin di akhir tahun.
“Alhamdulillah saya berharap sekali ini berakhir. Kita sudah jenuh. Kalau memang harus merugi, sekian kerugiannya tapi di bulan apa. Kalau mengambang seperi ini. Kita tak tahu,” pungkasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar dr Harisson MKes yang menjadi narasumber utama dalam FGD menyatakan pengetatan memang tak dilakukan di Kalbar. Pasalnya, jika pengetatan dilakukan maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
“Bisa saja pertumbuhan perekonomian di Pontianak dan Kalimantan Barat ini akan terjadi penurunan atau minus. Untuk itu kita tidak melakukan itu.Tapi tolong masyarakat melaksanakan protokol kesehatan,” jelas Kadiskes Kalbar.
Ia tak memungkiri saat ini ada istilah mati karena Covid-19 tidak, tapi mati karena tidak bisa makan atau mencari uang.
Abai Protokol
Kadiskes Kalbar Harisson juga memaparkan perkembangan pandemi Covid-19 di Kalbar dan apa saja pemicu warga terpapar Covid-19 serta pencegahan yang harus dilakukakan agar tidak menyebabkan hal-hal yang fatal untuk masyarakat Kalbar. Harisson menjelaskan, Covid-19 sangat cepat menyebar di masyarakat ataupun di perkantoran.
“Pertama mereka selalu menganggap mereka adalah teman kerja di kantor, sehingga aman untuk berdekatan dan berbicara tanpa menggunakan masker,” kata Kadiskes.
Kedua, lanjutnya, karena merasa teman dekat dan sahabat, sehingga aman untuk tidak menggunakan masker.
“Ketiga, mereka adalah keluarga, sehingga aman untuk saling mengunjungi, berkumpul bersama dan mengabaikan protokol kesehatan. Keempat, berolahraga beramai-ramai dengan masyarakat luas dan merasa pasti aman karena dirinya memakai masker dan membawa hand sanitizer, serta lokasi di area terbuka,” lanjutnya.
Kelima, lanjut Kadiskes, merasa muda dan sehat tidak punya penyakit bawaan, imunitas tinggi dan pasti tidak akan tertular dan jatuh sakit.
“Keenam merasa sehat dan tidak punya gejala Covid-19, sehingga merasa bebas beraktivitas, tidak menggunakan masker dan mengabaikan protokol Kesehatan. Hal tersebut bisa menjadi pemicu kenapa Covid-19 sangat cepat menyebar ditengah masyarakat karena abai protokol kesehatan dan merasa baik-baik saja ketika tidak menerapkan protokol kesehatan,” paparnya.
Menurutnya, penerapan protokol kesehatan 3M sangat perlu dilakukan untuk menjaga diri agar terhindar dari paparan virus Covid-19. “Ingat pesan Ibu penerapan 3M ketika beraktivitas itu sangat penting ditengah pandemi Covid-19,” ujar Harisson.
Ia mengatakan bahwa pada awal ditemukan kasus Covid-19 masyarakat sangat takut, tetapi sepertinya berjalannya kasus sampai hari ini akhirnya masyarakat bosan dan mengaggap bahwa Covid-19 seperti tidak nyata.
“Akhirnya masyarakat membebaskan diri keluar rumah tanpa menerapkan protokol kesehatan . Itulah yang menyebabkan kasus tinggi. Selain itu kita juga belum mampu memberi penjelasan bahwa covid-19 memang nyata,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa banyak masyarakat yang belum paham bahkan banyak juga yang tidak percaya dengan adanya virus Covid-19. “Tapi kalau sudah positif Covid-19 mereka sudah merasakan barulah dia paham dan percaya bahwa COVID-19 itu nyata,” tegasnya.
Ia mengatakan terkait penerapan Protokol kesehatan bahwa masih banyak masyarakat yang abai karena menganggap 3M adalah rutinitas, tapi tidak terasa akhirnya mereka lengah dan tidak melakukannya.
“Mereka juga merasa aman ketika abai protokol kesehatan tapi ketika ada disekitarnya dinyatakan positif Covid-19 baru mereka merasa ketakutan,” ujarnya.
Harisson mengatakan apabila melihat hasil pemeriksaan sampel swab yang diperiksa di Laboratorium Untan bahwa setiap 100 orang yang diperiksa sekitar 15-20 persen dinyatakan kasus Positif covid-19.
“Tapi kita tidak tahu diantara kita termasuk orang yang sudah terkonfimasi maka kita harus menjaga. Anggaplah semua orang disekitar kita kasus Covid-19. Maka kita harus terapkan protokol kesehatan,” tegasnya.
Jadi ketika ada teman disekitar tempat kerja atau kantor ada yang terpapar Covid-19 bahwa secara pribadi diri sendiri sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
“Jadi begitu temannya kasus positif Covid-19, dia tidak perlu takut dan tidak perlu minta swab Diskes hanya cukup isolasi mandiri selama 10 sampai 14 hari . Jadi kita pribadi harus selalu menerapkan protap. Jadi itulah caranya kita membentengi diri kita sendiri,” tegasnya.
Ia mengatakan memang pada usia anak-anak muda apabila tertular biasanya tanpa gejala atau OTG , namun biasanya juga hanya ada demam , batuk setelah istirahat cukup bisa sembuh . Akan tetapi bisa menjadi masalah kalau disekitar mereka ada orang tua yang punya Komorbid atau penyakit bawaan .
“Anak muda yang biasanya masih ke warkop ketika Positif Covid-19 tidak akan menunjukan gelaja tapi ketika pulang dia akan menularkan kepada orang tuanya dirumah yang ada komorbid. Ketika tertular maka akan parah dan terjadi sesak nafas, kalau di RS tidak mampu berjuang maka akan berakibat fatal atau menyebabkan kematian,” jelasnya.
Ia mengatakan apabila masih melakukan aktivitas diluar rumah tentu harus menerapkan protokol kesehatan supaya tidak tertular Covid-19 dan tidak menularkan kepada yang rentan.
“Kalau masih mau ke warkop harus terapkan protokol kesehatan dan harus menjaga supaya tidak tertular dan supaya tidak menularkan kepada yang lebih rentan,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa kecepatan penularan Covid-19 bisa melalui Percikan lendir atau Droplet, kontak fisik langsung atau melalui objek, aerosol, satu orang dapat menularkan sampai 560 orang perhari atau menjadi Super Spreader.
“Berakhirnya Covid-19 dengan skenarionya apabila ditemukan Vaksin, Obat Covid-19, dan Herd Imunity,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/yuliardi-qamal_20180221_193055.jpg)