Breaking News:

Proses Hukum Kasus Pemukulan Anak Terhadap Ayah Kandung Dihentikan, Ini Penjelasan Kajari Sanggau

kedua orangtua tersangka, tersangka YD, saksi dan para pihak dihadirkan di Kantor Kejaksaan Negeri Sanggau, Selasa 6 Oktober 2020.

Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Jamadin
TRIBUN PONTIANAK/ ISTIMEWA
Suasana proses perdamaian kasus pemukulan anak terhadap ayah kandungnya yang menghadirkan kedua orangtua tersangka, tersangka YD, saksi dan para pihak di Kantor Kejaksaan Negeri Sanggau, Selasa 6 Oktober 2020.  

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Kasus pemukulan seorang anak inisial YD terhadap ayah kandungnya YG yang terjadi di Kecamatan Bonti, Kabupaten Sanggau, Kalbar, dihentikan penuntutannya. Meskipun berkas perkara kasus tersebut sudah dinyatakan lengkap. 

Dalam proses perdamaian tersebut, kedua orangtua tersangka, tersangka YD, saksi dan para pihak dihadirkan di Kantor Kejaksaan Negeri Sanggau, Selasa 6 Oktober 2020.

“Ini merupakan implementasi dari perintah dan petunjuk dari pimpinan yaitu Jaksa Agung dan Kejaksaan Tinggi Kalbar terkait Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan  restoratif. Ini baru saja dilaunching, Apa yang beliau sampaikan yaitu  tegakkan hukum yang berkeadilan berhati nurani,”kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Sanggau, Tengku Firdaus, Selasa 6 Oktober 2020.

Dari awal, lanjut Tengku Firdaus, perkara ini memang jadi perhatian kita dimana pasal yang disamakan teman-teman penyidik di Polsek Bonti terkait kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh seorang anak kepada orangtuanya.

Kajari Sanggau: Ada Beberapa Pelaku Penyalahgunaan Narkotika Adalah Anak-Anak

"Pada saat penelitian berkas perkara, berkasnya sudah dinyatakan lengkap. Karena memang unsur delik yang disangkakan oleh teman-teman penyidik berdasarkan undang-undang kekerasan dalam rumah tangga dan 351 sudah terpenuhi, Dimana ada sejumlah alat bukti yang menguatkan,”tutur Tengku Firdaus.

Dari perjalanan berkas perkara, lanjutanya, Kemudian pada tanggal 5 Oktober sudah dilakukan tahap dua penyerahan tersangka dan barang bukti oleh penyidik kepada penuntut umum. 

"Pada saat tahap dua si tersangka ini didampingi oleh orangtuanya. Pada saat penyerahan tersangka itu, pada saat tahap dua disampaikan oleh orangtuanya bahwa minta perkara ini tidak dilanjutkan. Kita berdasarkan peraturan jaksa agung ini diberikan ruang oleh Jaksa Agung, Penuntut umum diberikan ruang selama 14 hari sebelum perkara ini dilimpahkan ke Pengadilan memberikan ruang untuk mediasi kepada pihak korban dan tersangka. Hari ini kita lakukan mekanisme itu, Kita hadirkan para pihak, korban dan tersangka hadir tadi,"ujarnya.

"Kita sampaikan apa menjadi niat dan maksud dari mediasi. Jadi karena memang berbagai macam pertimbangan, ada pertimbangan sosiologis dan ekonomi juga perhatikan bahwa ini memang perbuatan yang dilakukan oleh seorang anak kepada orang tua dan sudah dimaafkan. Nah kita usulkan untuk dihentikan penuntutannya berdasarkan keadilan restoratif tadi, berdasarkan petunjuk pimpinan,"tambahnya.

Setelah para pihak menandatangani   berita acara, Pihak Kejari Sanggau akan meminta persetujuan dari Kejaksaan Tinggi Kalbar.

“Nanti Kajati akan memberikan petunjuk, Diterima atau kah ditolak perdamaian ini. Tapi kita berharap dengan iktikad baik hari ini, Mudah-mudahan pimpinan berkenan untuk menetapkan bisa dihentikan penuntutannya terkait perkara ini,"jelasnya.

Bupati dan Kajari Sanggau Tinjau Pembangunan RSUD M Th Djaman

Kajari menjelaskan beberapa kriteria perkara bisa diterapkan restorative justice berdasarkan Perja nomor 15 tahun 2020 yaitu perkara yang dibawah ancaman pidana lima tahun, kemudian pelakunya baru pertama kali melakukan tindak pidana tersebut, 
Kemudian kalau diancam pidana denda tidak di atas Rp 2,5 juta.

“Ada juga beberapa ketentuan perkara-perkara kelalaian, contohnya 310 di undang-undang lakalantas dengan syarat korban dan tersangka melakukan perdamaian. Hubungan keluarga juga menjadi pertimbangan, Karena memang kami menilai pelaku ini masih berstatus pelajar saat kejadian, masih muda, baru pertama kali, dan di bawah pengaruh alkohol,"tegasnya.

Tengku Firdaus menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan pengawalan dan pengawasan, Begitu dia melakukan tindak pidana akan diakumulasi nanti perbuatanya.

"Jika dia melakukan perbuatan pidana kembali, Ini akan menjadi pertimbangan memperberat nanti hukuman pada saat dia melakukan perbuatan kembali,"pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved