Breaking News:

Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi di Perguruan Tinggi

Jika kondisi ini tetap kita biarkan berlangsung maka cepat atau lambat korupsi akan menghancurkan negeri ini.

Editor: Zulkifli
Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi di Perguruan Tinggi
Anti Korupsi.

Gerakan ini harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terkait, yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat yang bertujuan memperkecil peluang bagi berkembangnya korupsi dalam berbagai aspek kehidupan.

Upaya perbaikan perilaku manusia dalam rangka gerakan antikorupsi antara lain dapat dimulai dengan menanamkan nilai-nilai yang mendukung terciptanya perilaku antikorupsi. Nilai-nilai yang dimaksud adalah kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan. Penanaman nilai-nilai antikorupsi kepada masyarakat disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan penanaman nilai-nilai antikorupsi kepada mahasiswa adalah melalui pendidikan, sosialisasi, seminar, kampanye, atau bentuk- bentuk ekstrakurikuler lainnya.

Mahasiswa perlu diajak berperan aktif dan nyata dalam ranah pemberantasan korupsi. Upaya untuk perbaikan sistem yang perlu dilakukan, antara lain menyempurnakan peraturan perundang-undangan yang berlaku, memperbaiki tata kelola pemerintahan, reformasi birokrasi, menciptakan lingkungan kerja antikorupsi, menerapkan prinsip-prinsip clean and good governance, dan pemanfaatan teknologi transparansi.

Mahasiswa diharapkan dapat berperan sebagai agen perubahan dan motor penggerak dalam gerakan antikorupsi di lingkungan keluarga, lingkungan kampus, serta lingkungan masyarakat sekitar dan di tingkat lokal/nasional. Untuk keberhasilan gerakan tersebut, mahasiswa perlu dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi dan pemberantasannya.

Pelibatan mahasiswa dalam gerakan antikorupsi dapat dilakukan di lingkungan keluarga, lingkungan kampus, dan lingkungan masyarakat.  

1.      Lingkungan Keluarga

Dalam keluarga dapat terlihat ketaatan tiap-tiap anggota keluarga dalam menjalankan hak dan kewajibannya secara penuh tanggung jawab. Keluarga dalam hal ini harus mendukung dan memfasilitasi sistem yang sudah ada sehingga individu tidak terbiasa untuk melakukan pelanggaran.Sebaliknya, seringnya anggota keluarga melakukan pelanggaran peraturan yang ada dalam keluarga, bahkan sampai mengambil hak anggota keluarga yang lain, kondisi ini dapat menjadi jalan tumbuhnya perilaku korup di dalam keluarga.

2.      Lingkungan Kampus.

Keterlibatan mahasiswa dalam gerakan antikorupsi di lingkungan kampus dapat dibagi menjadi dua wilayah, yaitu untuk wilaya individu dan wilayah kelompok mahasiswa. Dalam wilayah individu seyogianya mahasiswa menyadari perilakunya agar tidak terjerembab pada praktik yang menyuburkan benih-benih korupsi.Contohnya, menitipkan presensi kehadiran kepada teman untuk mengelabui dosen. Dalam wilayah kelompok, mahasiswa dapat saling mengingatkan dan mengontrol apa yang terjadi di sekelilingnya terkait perilaku yang menjurus korupsi. Selain itu, Memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang bahaya melakukan korupsi, Kegiatan seperti kuliah kerja nyata (KKN) dapat dimodifikasi menjadi kegiatan observasi tentang pelayanan publik di dalam masyarakat dan sekaligus sosialisasi gerakan antikorupsi dan bahaya korupsi kepada masyarakat. Selain itu, mahasiswa juga dapat menciptakan kegiatan-kegiatan lain secara kreatif yang berhubungan dengan masyarakat secara langsung, seperti mengadakan sayembara karya tulis antikorupsi, mengadakan pentas seni antikorupsi, meminta pendapat masyarakat tentang pelayanan publik, atau mendengarkan keluhan masyarakat terkait pelayanan publik.

Kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa dimulai dari lingkungan kampus yaitu dengan menyosilisasikan nilai-nilai antikorupsi, kemudian menyosialisasikan ke luar lingkungan kampus atau perguruan tinggi lainnya dengan dukungan BEM. Mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi internet dan media sosial dengan mengadakan situs opini antikorupsi atau menciptakan komunitas-komunitas antikorupsi di dunia maya. disisipkannya materi tentang gerakan antikorupsi pada kegiatan latihan dasar kepemimpinan di BEM, Unit kegiatan mahasiswa, himpunan organisasi mahasiswa, pembuatan poster dan spanduk antikorupsi, dan mengadakan gerakan jujur dalam ujian.

3.      Lingkungan masyarakat

Mahasiswa dapat melakukan gerakan antikorupsi dan menanamkan nilai- nilai antikorupsi di masyarakat sekitar.Mahasiswa dapat berperan sebagai pengamat di lingkungannya, mahasiswa juga bisa berkontribusi dalam strategi perbaikan sistem yaitu memantau, melakukan kajian dan penelitian terhadap layanan publik, seperti berikut. 

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Di Perguruan Tinggi

Dalam dunia akademis khususnya perguruan tinggi, lahirnya sebuah matakuliah baru akan memerlukan penempatan ranah keilmuan yang tepat. Demikian pula halnya dengan matakuliah Anti-korupsi. Dari pengalaman beberapa universitas yang telah menyelenggarakan matakuliah ini, salah satunya adalah Perguruan Tinggi Di Kalimantan Barat adalah IKIP PGRI Pontianak, Program Studi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan yang memiliki kurikulum mata kuliah pendidikan anti korupsi yang diajarkan pada mahasiswa semester pertama.

Seyogyanya, Mata kuliah ini lahir sebagai respon atas perkembangan fenomena semakin parahnya disintegritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang diindikasikan oleh terjadinya  berbagai tindak korupsi yang tiada henti, sehingga memerlukan upaya- upaya sistematis dalam membasminya. Dampak korupsi yang telah terbukti melemahkan sumber daya, meresahkan kehidupan sosial, menggerogoti potensi negara-bangsa dan bahkan sudah menjadi masalah internasional, harus didiseminasikan kepada seluruh masyarakat melalui pendidikan; sehingga diharapkan akan menumbuhkan tekad bersama untuk menghentikan korupsi dimasa mendatang. 

Tujuan mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi, yaitu membangun kepribadian anti-korupsi pada diri individu mahasiswa serta membangun kompetensi dan komitmennya sebagai agent of change dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Jadi mata kuliah ini lebih menekankan pada character building mahasiswa yang dibangun atas dasar pengetahuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Oleh karena itulah mata kuliah ini dapat diikuti oleh mahasiswa dari semua bidang keilmuan, begitu pula pengajarnya tidak harus dari bidang ilmu tertentu. Setelah menjalani mata kuliah Anti korupsi, harapan terhadap mahasiswa adalah :

1.    Mahasiswa mampu mencegah dirinya sendiri agar tidak berperilaku koruptif dan tidak melakukan tindak pidana korupsi.

2.    Menguatnya kepekaan terhadap perilaku koruptif akan menyebabkan mahasiswa berusaha tidak melakukan tindakan koruptif sekecil apapun, baik yang terkait uang ataupun lainnya.

3.    Mahasiswa mampu mencegah orang lain agar tidak berperilaku koruptif dan melakukan tindak korupsi. Mahasiswa memiliki keberanian untuk mengingatkan keluarga, kerabat, teman-teman dan lingkungan sekitar. Mahasiswa juga bisa memberikan informasi kepada orang lain mengenai korupsi dan anti-korupsi.

4.    Mahasiswa mampu mendeteksi adanya perilaku koruptif dan memberikan respon termasuk melaporkan ke pihak terkait. Melaporkan ke penegak hukum bisa dilakukan, asalkan dilengkapi dengan bukti-bukti kuat.

Pendidikan Anti-korupsi yang dilaksanakan oleh setiap perguruan tinggi seyogyanya memiliki kesamaan tujuan dan kompetensi yang ingin dicapai. Dengan demikian kompetensi anti-korupsi mahasiswa di seluruh perguruan tinggi akan berada pada tingkatan yang diharapkan. Namun terdapat hal-hal yang dapat menjadi pembeda karakter matakuliah Anti-korupsi antar perguruan tinggi, yaitu:

1.      Lokalitas daerah dan gerakan anti-korupsi yang terjadi di daerah dimana sebuah perguruan tinggi berada.

2.      Kearifan lokal, slogan klasik maupun modern yang terdapat dalam budaya suatu daerah dimana sebuah perguruan tinggi berada.

3.      Ciri khas perguruan tinggi Sesuatu yang menjadi visi, misi, kompetensi utama dari sebuah perguruan tinggi yang membedakannya dari perguruan tinggi lain.

4.      Ciri khas program studi atau keilmuan Konteks keilmuan dari program studi dimana matakuliah ini diajarkan.

Dimasukkannya ke-empat hal diatas dalam matakuliah Pendidikan Anti-korupsi di sebuah perguruan tinggi akan menjadi ciri khas karena substansi matakuliah menjadi lebih kontekstual dan dapat melahirkan problem solving yang konkrit bagi masyarakat setempat.

Metode Pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi Di Perguruan Tinggi

Terdapat beberapa metode pembelajaran dapat diterapkan dalam mata pelajaran atau matakuliah Pendidikan Anti korupsi diharapkan memberikan aspek problem based learning bahkan problem solving terhadap setiap masalah yang dibahas pelajar dan mahasiswa, antara lain:

1.      Case study, tujuannya adalah untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap kasus korupsi serta mampu menganalisa atas dasar konsep-konsep yang diberikan.

Disisipkan pada setiap pertemuan perkuliahan untuk setiap pembahasan. Kegiatan dilakukan dengan mendiskusikan kasus – kasus terkait dengan topik yang sedang dibahas, seperti kasus korupsi, kasus faktor penyebab korupsi, kasus dampak korupsi, kasus gerakan pemberantasan korupsi di negara lain, dan sebagainya.

Sifat studi kasus disarankan tidak hanya berupa kasus grand corruption yang dikenai hukum, namun juga kasus-kasus petty corruption dan dilema korupsi yang sering dihadapi mahasiswa; tidak hanya kasus korupsi namun juga best practice dalam memberantas korupsi atau menerapkan good governance.

2.      Skenario perbaikan sistem, Tujuannya adalah memberikan rangsangan kepada mahasiswa agar memikirkan penyelesaian masalah secara nyata (problem solving). Kegiatan dilakukan yaitu: dosen memberikan satu bahan diskusi untuk didiskusikan oleh kelompok mahasiswa. Mahasiswa diharapkan membuat skema perbaikan sistem yang bisa menyelesaikan masalah korupsi yang selalu terjadi pada kasus tersebut.

3.      Kuliah umum, tujuannya adalah untuk belajar dari praktisi atau orang-orang di lapangan yang mampu menginspirasi dan dapat menjadi role model bagi mahasiswa. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan menghadirkan seorang pembicara tamu untuk berbagi pengalaman dan kita dalam memberantas dan mencegah korupsi di dunia kerjanya. Pembicara tamu adalah tokoh-tokoh yang dikenal sebagai corruptor-fighter di bidangnya masing-masing seperti tokoh-tokoh KPK, pengusaha,  politisi, pemuka agama, pejabat pemerintah, dan lain-lain

4.      Diskusi film, menggunakan media film sebagai media pembelajaran melalui kekuatan audiovisual. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan memutar film dokumenter korupsi atau anti-korupsi, kemudian mendiskusikan dengan  mahasiswa. Hal-hal yang bisa didiskusikan mahasiswa misalnya terkait bentuk korupsi yang terjadi, dilema yang dihadapi si koruptor atau orang yang membantu terjadinya korupsi, dan sebagainya. Diskusi bisa diperkaya dengan pengalaman serupa yang pernah dihadapi oleh mahasiswa.

5.      Investigative report, Tujuannya adalah agar mahasiswa memiliki kompetensi untuk mengidentifikasi dan menganalisis sebuah tindak korupsi yang nyata terjadi di lingkungan sekitar atau daerah setempat, serta membuat laporan korupsi yang efektif dan impactful. 

6.      Thematic exploration, Tujuanny adalah membangun cara berfikir yang komprehensif dalam menggali sebuah kasus. Kegiatan yang dilakukan adalah mahasiswa melakukan observasi terhadap sebuah kasus korupsi atau perilaku koruptif, kemudian menganalisis dari berbagai perspektif sosial, budaya, hukum, ekonomi, politik dan sebagainya. Mahasiswa juga bisa melakukan observasi perbandingan perspektif atau cara penyelesaian terhadap satu jenis kasus yang serupa dari masyarakat atau negara yang berbeda.

7.      Prototype. Metode ini merupakan penerapan keilmuan atau ciri khas perguruan tinggi terkait atau ciri khas lokal dalam konteks anti-korupsi; atau mengeksplorasi korupsi dan anti-korupsi. Kegiatan yang dilakukan adalah mahasiswa membuat prototype teknologi terkait cara-cara penang- gulangan korupsi

8.      Prove the government policy. Tujuannya adalah melakukan pemantauan terhadap realisasi janji pemerintah sebagai bentuk integritas. Kegiatan yang dilakukan adalah kelompok mahasiswa melakukan pengamatan, penelitian ke lapangan untuk melihat kesesuaian janji pemerintah yang disosialisasikan melalui kampanye/spanduk/ iklan/pengumuman prosedur di berbagai instansi dengan realisasi di lapangan.

9.      Education tools. Tujuannya adalah menciptakan media pembelajaran yang kreatif untuk segmen pendidikan formal maupun publik dalam rangka gerakan anti-korupsi. Kegiatan yang dilakukan adalah kelompok mahasiswa mewujudkan kreatifitasnya dalam mendesain berbagai macam produk yang bisa menjadi media pembelajaran anti-korupsi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved