Breaking News:

Rumahnya Dieksekusi Pengadilan, Warga Laporkan Penjual Tanah ke Polsek Pontianak Timur

Saya beli itu ke S, dia datang ke rumah, dan saya tanya kedia, ini aman ndak, dia bilang aman

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ FERRYANTO
Matsum, satu dari 7 warga yang membangun rumah di lahan sengketa di Jalan Tritura, Gang Askot Dalam, Kecamatan Pontianak Timur. Selasa (15/9/2020).. 

TRIBUN PONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Mastum (35) satu di antara 7 warga Jalan Tritura, Gang Askot Dalam, Kelurahan Tanjung Hilir, Kecamatan Pontianak Timur yang mendirikan rumah di tanah sengketa terlihat pasrah dan sesaat termangu saat eksavator merobohkan seluruh bagian rumahnya. Selasa (15/9/2020).

Mastum mengaku ikhlas atas keputusan pengadilan yang merobohkan rumahnya yang terbukti berdiri di atas tanah orang lain.

Ia mengatakan bahwa ia tak pernah menyangka tanah yang ia beli dari S  pada 2014 seharga Rp25 juta  itu bakal berujung sengketa dan membuatnya harus kehilangan tempat tinggal.

"Saya beli itu ke S, dia datang ke rumah, dan saya tanya kedia, ini aman ndak, dia bilang aman, tetapi setelah jual beli itu, dia tidak pernah memberikan surat - surat tanah dalam bentuk apapun, hanya kwitansi saja," ungkap Matsum.

Berdiri Dilahan Sengketa Sejak 2014, Pengadilan Negeri Pontianak Eksekusi 7 Rumah di Jalan Tritura

"SKT juga tidak ada, katanya nanti mau di urus, nanti kalau selesai semua, kata si S mau di pecah semua," ujarnya.

Setelah beberapa tahun ia membangun rumah di tanah tersebut, ia bersama warga yang lain pun mendapat pemberitahuan dari pihak Pengadilan, bahwa tanah yang mereka tempati sedang disengketakan.

Eksavator saat merobohkan rumah warga yang bediri di lahan sengketa di Jalan Tritura, Gang Askot Dalam, Kecamatan Pontianak Timur.Selasa (15/9/2020).
Eksavator saat merobohkan rumah warga yang bediri di lahan sengketa di Jalan Tritura, Gang Askot Dalam, Kecamatan Pontianak Timur.Selasa (15/9/2020).

Dan saat ia bersama warga mengkonfirmasi ke S, di akui Mastum S menyampaikan kepadanya agar tenang, dan menyakinkan bahwa tanah yang dijual bakal menang di pengadilan.

Namun, pada akhirnya S kalah di pengadilan, dan pengadilan memutuskan agar seluruh warga untuk mengosongkan lahan tersebut.

"Sampai semua sudah terbongkar ini, si S masih terus menyangkal kalau lahan ini bermasalah, dan katanya tidak mungkin dirobohkan. Yang saya lebih kesalkan, S ini, sudah kalah di pengadilan, kok masih berani menjual tanah ini,"katanya.

Lebih jauh, Matsum mengatakan, beberpa bulan lalu sempat di adakan pertemuan antara warga serta S oleh pihak kelurahan dan Kepolisian, dan S berjanji akan mengganti rugi atas rumah dari warga, namun hingga kini S tak muncul kembali di hadapan warga.

Matsum yang kesehariannya bekerja sebagai driver ojek dan juga buruh bangunan ini mengaku merugi hingga lebih 80 juta atas ekseskusi lahan ini.

"Kalau kerugian saya ini sekitar 80 juta lebih sama tanah, sekarang belum tau mau tinggal dimana, sementara paling numpang tempat keluarga," katanya.

Atas ekseskusi lahan yang dilakukan oleh Pengadilan, Mastum pun memutuskan untuk melapor kan S ke Polsek Pontianak Timur atas dugaan penipuaan karena telah menipun dirinya dan 6 warga lainnya.

Penulis: Ferryanto
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved