Breaking News:

Rapid Test akan Dicabut sebagai Syarat Terbang, Sutarmidji: Swab Semua yang Datang dari Jalur Udara

Sutarmidji memprediksi bahwa keterjangkitan di Jawa lebih besar karena mengikuti bahwa 10 hari dianggap sembuh.

TRIBUNPONTIANAK/ FILE
Gubernur Provinsi Kalimantan Barat, Sutarmidji 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana akan mencabut kewajiban rapid test sebagai syarat melakukan perjalanan.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Kalimantan Kalbar, H Sutarmidji mengatakan rencana dicabutnya rapit test sebagai syarat terbang merupakan pekerjaan konyol Menteri.

Ditegaskan bahwa dirinya akan tetap memberlakukan bagi siapapun yang datang ke Pontianak melalui jalur udara akan diswab .Kemudian tidak boleh keluar rumah sampai hasil swab keluar.

 Sutarmidji menegaskan bahwa tidak semua OTG bisa sembuh dalam waktu 10 hari, karena OTG yang datang dari luar Kalbar saja setelah dinyatakan positif covid-19 pada 12 hari kembali diambil swab hasilnya masih ditemukan 16 juta copies virus dan masih potensi untuk menjangkiti orang lain.

Sutarmidji memprediksi bahwa keterjangkitan di Jawa lebih besar karena mengikuti bahwa 10 hari dianggap sembuh. Dikatakannya hal itu harus secepatnya di evaluasi.

“Kalau saya biasa melihat dan mebaca hasil pemeriksaan sampel swab ada berapa kandungan virus pada hasil swab tersebut. Jadi kalau dia kasus transmisi lokal , saya tidak khawatir tapi kalau dari Jawa itu bahaya kandungan virusnya besar dan kesembuhan diatas 26 hari ,ujarnya , Rabu (9/9/2020).

Ia mengatakan bagaimana bisa menyatakan bahwa 10 hari bisa dinyatakan sembuh.

Sutarmidji Minta Kepala Sekolah tidak Takut Gunakan Dana BOS untuk Penanganan Covid-19

Sebelumnya Pemerintah pusat berani mengatakan bahwa rapid test berlaku 3 sampai 7 hari masa efektifnya. Hal seperti itu jangan dibiarkan begitu saja.

“Kalau perlu penerbangan pakai swab jangan malah rapid test yang dicabut lalu diwajibkan untuk daerah melakukannya . Kalau daerah punya PCR, kalau tidak memadai gimana. Itu pekerjaan tidak masuk akal gimana mau nangani covid-19 di Indonesia kalau seperti itu,” tegasnya. .

Ia mengatakan bahwa sudah tahu kemampuan daerah terbatas tapi diberi beban untuk mentracing .

Dikatakannya lebih bagus pada pintu keluar bukan pintu masuk .

“Pintu masuk harus menunggu waktu lagi hasilnya dan orang sudah berkeliaran. Kita akan tetap berlakukan dan siapapun yang datang ke Pontianak mau saya swab yang datang ewat bandara . Kemudian tidak boleh keluar rumah sampai hasil swab keluar,”tegas Sutarmidji.

Ia mengatakan pusat hanya bisa marah kalau keterjangkitan didaerah tinggi padahal dengan memberlakukan 10 hari dinyatakan sembuh lebih bahaya.

“Minimal dengan rapid test kita tahu imun seseorang yang bisa digunakan untuk melawan virus . Jadi ketika di rapid test kita tahu imun orang. Jangan takut untuk melakukan swab lebih bagus cepat diketahui tidak fatal dan kita bisa membuat kesembuhan lebih cepat ,” pungkasnya.

Penulis: Anggita Putri
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved