Breaking News:

Alian: Dari 163 Desa di Sanggau, Baru 85 Badan Usaha Milik Desa yang Terbentuk

Dipostur APBDes itu, lanjutnya, ada Pendapatan Asli Desa (PADes). Itulah yang merupakan keuntungan dari BUMDes yang nanti dijadikan dipostur APBDes y

TRIBUNPONTIANAK/HENDRI CHORNELIUS
Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPM Pemdes) Kabupaten Sanggau, Alian 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPM Pemdes) Kabupaten Sanggau, Alian menyampaikan bahwa dari 163 desa di Kabupaten Sanggau, baru 85 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang terbentuk. Dari 85 desa tersebut, baru 20 an desa yang eksis.

"Eksis dalam konteks ini artinya BUMDes itu sudah ada bukti penyertaan modalnya yang disumbangkan kepada pemerintah desa melalui APBDes," katanya, Rabu (9/9/2020).

Dipostur APBDes itu, lanjutnya, ada Pendapatan Asli Desa (PADes).

Itulah yang merupakan keuntungan dari BUMDes yang nanti dijadikan dipostur APBDes yang akan bisa mengembangkan program di tingkat desa.

Diskominfo Sanggau Bagikan 200 Masker dan Stiker Imbauan

Jumlah nominal PADes juga bervariasi.

“Tapi paling tidak BUMDes itu memiliki tiga analisa. Pertama berapa persen dari total keuntungan BUMDes itu untuk pengembangan usahanya kembali. Kedua, berapa persen dari total keuntungan BUMDes itu untuk operasional BUMDes, termasuk dana tidak terduga ditubuh BUMDes. Dan ketiga berapa persentasenya itu untuk pendapatan asli desa, Ini bervariasi,” tegasnya.

Beberapa BUMDes yang dinilainya cukup maju diantaranya, BUMDes Desa Suka Gerundi di Kecamatan Parindu, BUMDes Desa Melobok, Kecamatan Meliau dan BUMDes Desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir.

"Di Desa Pendalaman ini ada bantuan CSR untuk BUMDes-nya,” tuturnya.

Kendati tidak menyebut nama desanya, Alian menjelaskan bahwa saat ini sudah ada BUMDes yang menyumbang di atas Rp10 juta untuk APBDes.

“Itu sudah harus kita syukuri, Tapi mereka ini masih belajar. Kedepan harapan kita, seluruh BUMDes mampu melaksanakan program tingkat desa sehingga nanti ada pendapatan asli desa,” harapnya.

BUMDes tersebut, lanjutnya, bergerak di berbagai bentuk. Tergantung dari masyarakat desa setempat dengan mempertimbangkan asas manfaat, sumber daya pengelola, serta konsumen.

“Misalnya usaha air galon, ada jasa lainnya, seperti penjualan bibit, dalam bentuk tanaman holtikultura, tanaman keras. Juga penyewaan baju-baju adat, Tapi itu kita serahkan ke BUMDes, masyarakatnya,” pungkasnya. (*)

Penulis: Hendri Chornelius
Editor: Rivaldi Ade Musliadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved