Breaking News:

Gubernur Sutarmidji Dukung Keputusan Kementan Memasukan Kratom Sebagai Tanaman Bahan Baku Obat

Gubernur Sutarmidji juga akan menganggarkan dalam APBD untuk penelitian manfaat daun Kratom bagi pengobatan yang akan melibatkan para pakar farmasi.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ SAHIRUL HAKIM
Seorang petani daun kratom di Putussibau saat menjemur daun kratom, yang nantinya akan dijual ke penampung. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Gubernur Kalimantan Barat, H Sutarmidji menyambut baik keputusan Kementrian Pertanian yang telah memasukan kratom sebagai tanaman bahan baku jamu .

Keputusan tersebut telah dimuat dalam surat Keputusan Kementan RI Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian lewat Direktorat Jenderal Hortikultura, kratom telah masuk dalam komoditas tanaman obat pada urutan terakhir.

Gubernur Sutarmidji juga akan menganggarkan dalam APBD untuk penelitian manfaat daun Kratom bagi pengobatan yang akan melibatkan para pakar farmasi.

Sutarmidji menyampaikan bahwa sebelumnya BNN mau melarang penggunaan daun Kratom Pada tahun 2023.

Kepala BNNP Kalbar Nyatakan Kratom Masih Legal dan Belum Ada Regulasi Pelarangan

Namun Midji sempat menyampaikan agar kratom jangan dilarang, tapi diperbaiki pada tata kelola dan tata niaganya.

Dikatakannya kalau memang dilarang penjualannya ataupun peredarannya apakah berani menebang keratom sekitar 20 juta pohon yang tumbuh di kawasan hutan yang dilindung sebagai paru- paru dunia yang berada di Kapuas Hulu.

“Berani tidak menebang pohon kratom, kalau tak ditebang apa manfaatnya dan bisa tidak mereka mengawasinya. Ketika saya bilang tebang, ada yang mengatakan kita punya aparat, ini bukan cerita aparat ,” ujarnya.

Ia mengatakan Betung kerihun Danau Sentarum dan 53 persen kawasan Kapuas Hulu masuk dalam kawasan lindung sebagai Paru-paru dunia.

“Gubernur Jakarta nebang 60 pohon di monas saja hebohnya sedunia. Sekarang kalau mau nebang 20 juta pohon kratom dari berbagai jenis ukuran, dan akhirnya gundul, berani tidak berhadapan dengan isu lingkungan yang akan dimainkan oleh orang Eropa,” ujarnya.

Ia mengatakan kenapa kratom di Kalbar tidak dijadikan nilai tawar karena Kapuas Hulu dijaga sebagai penyangga Paru-paru dunia untuk mencegah Percepatan penipisan lapisan ozon.

Halaman
12
Penulis: Anggita Putri
Editor: Rivaldi Ade Musliadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved