Wawancara Eksklusif

Anis Matta Dirikan Partai Baru di Tengah Krisis, Pemerintah dan Partai Oposisi Sama-sama Bingung

Lahir pada 28 Oktober 2019, Partai Gelora menerima surat keputusan (SK) sebagai badan hukum dari Kementerian Hukum dan HAM pada 2 Juni 2020.

Editor: Jamadin
TRIBUNNEWS.COM
Ketua Umum Gebora Indonesia, Anis Matta 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- ANIS Matta lebih dikenal sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Terutama di saat organsasi politik itu tengah dilanda goncangan kuat setelah pimpinan sebelummnya, Lutfhi Hasan Ishaaq (Presiden PKS periode 2010-2013), terjerat kasus korupsi impor daging sapi.

Namun, Anis Matta kemudian memilih hengkang dari PKS dan mendirikan Partai Gelombang Rakyat (Gelora) bersama sejumlah kader PKS yang sehaluan dengan dirinya.

Lahir pada 28 Oktober 2019, Partai Gelora menerima surat keputusan (SK) sebagai badan hukum dari Kementerian Hukum dan HAM pada 2 Juni 2020.

Setelah mendirikan Partai Gelora, Anis Matta bersama pengurus pimpinan nasional melakukan road show ke sejumlah tokoh, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Gelar Tasyakuran, DPW Gelora Kalbar Siap Bersaing di Pemilu 2024

Dalam dua kali pertemuan dengan Jokowi, Anis Matta mengaku memberi masukan kepada Presiden terkait bakal munculnya krisis dan pandemi Covid-19 yang mengguncang seluruh sendi kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Berikut petikan wawancara eksklusif dengan Anis Matta, di kantor Tribun Network, Jakarta, tepat di awal Tahun Baru 1442 Hijriah, Kamis (20/8).

Tribun: Setiap kelompok yang mendirikan partai pasti tujuannya meraih kekuasaan. Seandainya saat ini Partai Gelora menjadi partai penguasa dan Anda jadi Presiden RI, apa yang akan Anda lakukan?

Anis Matta: Krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19 ini begitu besarnya sehingga berada di atas kapasitas pemerintah. Bahkan kalau kapasitas pemerintah dan oposisi digabung, masih belum dapat mengimbangi besarnya krisis itu.

Kalau ditanya bagaimana menghadapi krisis ini, pemerintah dan oposisi sama-sama bingung. Daripada kita semua bingung bersama lebih baik kita duduk bersama lalu bicara untuk mencari solusi.

Kalau saya jadi pemerintah, pertama mengurus managemen krisis. Soal ini sudah saya sampaikan ketika bertemu Pak Jokowi.

Menurut saya, seharusnya kita membuat tiga klaster dalam situasi krisis seperti saat ini. Klaster pertama yaitu klaster scientist (Ilmuwan). Kumpulkan para scientist besar di Indonesia menjadi satu tim.

Biarkan mereka bermusyawaah untuk merumuskan makhluk apa yang namanya corona (covid-19) ini. Beri saya bahan untuk mengambil keputusan.

SK dari Kemenkumham Terbit, Ini Kata DPD Partai Gelora Pontianak

Mengapa? Masalahnya saat ini fatwa para scientist ini berbeda-beda. Akibatnya muncul ruang manipulasi yang sangat besar, sehingga bisa dipakai sebagai alat dagang.

Daripada Presiden melakukan banyak kesalahan dalam memberikan arahan, sebaiknya semua kebijakan bertumpu pada hasil musyawarah para scientis nasional itu. Ibaratnya bikin ijma.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved