Breaking News:

Survei Biodiversitas Yayasan Palung Berjumpa Tumbuhan dan Satwa Langka di Hutan Desa

Tidak hanya itu, saat melakukan survei, tim survei juga menemukan 1 sarang orangutan di wilayah hutan desa Batu Barat dan 11 sarang orangutan

IST/Yayasan Palung-Ketapang
SURVEI - Tim dari Yayasan Palung berangkat menelusuri sungai untuk melakukan survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. 

Citizen Reporter

Laporan: Petrus Kanisius | Yayasan Palung

Dalam rangka rencana pengelolaan hutan desa yang baru, Yayasan Palung, melakukan survei Biodiversitas di dua desa (Batu Barat dan Rantau Panjang) yang terletak di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Ketika melakukan survei, tim Survei dari Yayasan Palung (YP) yang terdiri dari Erik Sulidra, Andre Ronaldo, dan Hendri Gunawan bersama 4 anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) berjumpa dengan tumbuhan dan satwa langka saat survei biodiversitas di 2 hutan desa baru tersebut.
Tumbuhan dan satwa langka yang mereka jumpai saat melakukan survei tersebut antara lain seperti: Di Hutan Desa Batu Barat, tumbuhan yang ditemukan seperti 2 jenis pohon yang berstatus Critically Endangered (CR)/ sangat terancam punah, berdasarkan IUCN redlist yaitu meranti payak (Shorea platycarpa) dan ramin (Gonystylus bancanus) .

Sedangkan di Hutan Desa Rantau Panjang yang di temukan adalah; 1 jenis pohon yang berstatus Critically Endangered (CR) berdasarkan IUCN redlist yaitu ramin (Gonystylus bancanus) dan 1 jenis Endangered (EN) /terancam punah yaitu Keruing (Dipterocarpus grandiflorus).

CATAT - Seorang anggota tim dari Yayasan Palung mencatat hasil pengamatan saat melakukan survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
CATAT - Seorang anggota tim dari Yayasan Palung mencatat hasil pengamatan saat melakukan survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. (IST/Yayasan Palung-Ketapang)

Selain itu, pada saat melakukan survei dijumpai pula jenis satwa dilindungi seperti burung enggang hitam/kangkareng hitam/ Black hornbill (Anthracoceros malayanus). Ada pula dijumpai jenis mamalia seperti bajing kerdil telinga hitam (Nannosciurus melanotis), ada juga dijumpai jejak rusa. Ada pula dijumpai elang brontok (Nisaetus cirrhatus), ketika tim survei melewati sungai mereka berjumpa dengan buaya jenis buaya muara (Crocodylus porosus) dan berjumpa dengan satwa endemik Kalimantan yaitu Bekantan (Nasalis larvatus).

Tidak hanya itu, saat melakukan survei, tim survei juga menemukan 1 sarang orangutan di wilayah hutan desa Batu Barat dan 11 sarang orangutan dijumpai di wilayah Hutan Desa Rantau Panjang.

Seperti diketahui, jumlah luasan hutan desa Batu Barat adalah 454 hektar (Ha) dan hutan Rantau Panjang luasannya adalah 344 hektar (Ha).

PANTAU - Seorang anggota tim dari Yayasan Palung memantau ketersediaan pakan untuk satwa saat melakukan survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
PANTAU - Seorang anggota tim dari Yayasan Palung memantau ketersediaan pakan untuk satwa saat melakukan survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. (IST/Yayasan Palung-Ketapang)

Andre Ronaldo selaku staf Botanis Yayasan Palung, mengatakan, kelimpahan pakan orangutan dijumpai juga di dua wilayah hutan desa Batu Barat dan Rantau Panjang. Setidaknya dijumpai 82 jenis pohon berhasil diidentifikasi, 59 diantaranya adalah pakan orangutan. Jenis pohon pakan orangutan yang melimpah di Batu Barat adalah jenis punak (Tetrameristra glabra) yang buahnya merupakan makanan kesukaan orangutan. Sedangkan di wilayah hutan desa Rantau Panjang, jenis pakan orangutan yang banyak dijumpai adalah mahang (Makaranga Pruinosa), kempas (Koompassia malaccensis) dan Nyatoh (Madhuca motleyana).

Dari hasil survei tersebut, sebagian besar didominasi oleh pohon pakan orangutan yang ada di dua wilayah ini. Ada 74, 58 % pohon pakan orangutan di Wilayah Hutan Desa Rantau Panjang, sedangkan di Batu Barat ada 79,54 % pohon pakan orangutan.

Lebih lanjut Andre, sapaan akrabnya menambahkan, Seperti diketahui, dua wilayah hutan desa baru (Hutan desa Batu Barat dan Hutan Desa Rantau Panjang) binaan Yayasan Palung ini merupakan kawasa/wilayah hutan desa ini merupakan hutan sekunder bekas kebakaran dan eks illegal logging, sehingga ditumbuhi jenis pioneer dan jenis-jenis utama sudah hilang.

SURVEI - Seorang anggota tim dari Yayasan Palung mencatat hasil survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
SURVEI - Seorang anggota tim dari Yayasan Palung mencatat hasil survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. (IST/Yayasan Palung-Ketapang)

Ketika meceritakan pengalaman selama 10 hari melakukan survei, Erik Sulidra dari Yayasan Palung mengatakan ; karena wilayah baru, pengalaman berbeda dari tempat-tempat yang lainnya. Erik, sapaan akrabnya menceritakan pengalaman menariknya, diantaranya; ia bisa berjumpa langsung melihat burung enggang di habitat aslinya, menariknya lagi ia bisa berjumpa buaya muara di alam liar secara langsung, yang biasanya orang sangat sulit sekali berjumpa. Selain itu, Erik yang juga dikenal sebagai pengamat burung menambahkan, Senang bisa bisa bekerjasama dengan orang baru (teman-teman dari LPHD di dua wilaya hutan desa) serta ia juga menceritakan bertemu dengan akar kuning (Arcangelisia flava) sebagai obat tradisional.

Hendri Gunawan selaku tim survei juga menceritakan pengalaman menariknya ketika melakukan survei biodiversitas di dua hutan desa. Hendri, sapaan akrabnya mengatakan; Survei yang ia lakukan ini merupakan pengalaman pertamanya menjelajahi hutan rawa gambut dalam, bisa bertemu dengan hewan liar di habitatnya dan bisa belajar secara langsung di alam, yang biasanya hanya lihat di literatur. Hendri pun menambahkan pengalaman yang paling berkesan selama melakukan survei menurutnya adalah bisa menjelajah hutan desa dan ketemu orang baru yang simpel.

BUAYA - Tim dari Yayasan Palung yang melakukan survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, berjumpa dengan seekor buaya.
BUAYA - Tim dari Yayasan Palung yang melakukan survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, berjumpa dengan seekor buaya. (IST/Yayasan Palung-Ketapang)

Seperti diketahui, berdasarkan hasil survei, di wilayah dua hutan desa ini ditemukan bekas ilegal loging, bekas kebakaran dan perburuan (di lokasi dijumpai/ditemukan jerat pemburu).
Direktur Lapangan Yayasan Palung, Edi Rahman mengatakan, “Adapun tujuan dari survei tersebut kita bisa mengetahui potensi yang selanjutnya kita bisa menyusun rencana di dua hutan desa ini, seperti pohon pakan orangutan dan mengetahui flora, fauna penting (endemik, dilindungi/terancam punah). Sedangkan datanya sebagai acuan pengelolaan hutan desa yang baru (Hutan desa Batu Barat dan Hutan Desa Rantau Panjang).

SURVEI - Tim dari Yayasan Palung yang melakukan survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, menemukan satu individu bekantan.
SURVEI - Tim dari Yayasan Palung yang melakukan survei Biodiversitas di Desa Batu Barat dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, menemukan satu individu bekantan. (IST/Yayasan Palung-Ketapang)

Lebih lanjut, Edi demikian ia disapa sehari-hari menambahkan, “Dengan diadakan survei ini, kita bisa mengetahui potensi apa saja yang ada di dalam dan di luar hutan desa. Selanjutnya juga, yang terpenting adalah pengelolaan hutan desa. Hal ini dikarenakan usulan dua wilayah ini (Hutan Desa Batu Barat dan Hutan Desa Rantau Panjang) telah ditetapkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tanggal 31 Desember 2019, tahun lalu”.

Penulis: Stefanus Akim
Editor: Stefanus Akim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved