Tribun Pontianak Virtual
KISAH Dekan Kedokteran Untan Pontianak Positif Covid-19 Bersama Istri, Anak dan Pengasuh! Baca Novel
Doker Asro, sapaan akrab Muhammad Asroruddin, mengisahkan bagaimana perjuangannya bersama keluarga berhasil sembuh dari Covid-19.
Penulis: Hamdan Darsani | Editor: Marlen Sitinjak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura ( Untan ) Pontianak, dr Muhammad Asroruddin, berbagi kisah selama Ia dan keluarga menjalani karantina karena positif terpapar virus corona atau covid-19.
Dokter Asroruddin mengisahkan bagaimana ia dan keluarga melawan Covid-19 pada Live Talk Tribun Pontianak, Senin (15/6/2020).
Doker Asro, sapaan akrab Muhammad Asroruddin, mengisahkan bagaimana perjuangannya bersama keluarga berhasil sembuh dari Covid-19.
Asro menceritakan dirinya terkonfirmasi pertama kali sebagai pasien Covid-19 di Pontianak melalui program screening.
Program screening ini diikuti dirinya bersama dengan tenaga kesehatan lainnya yang bertugas di RS Untan.
Screening dilakukan lantaran tenaga kesehatan dekat pasien dan berisiko tertular.
• TERBARU Total Pasien Sembuh Kota Pontianak Capai 78 Persen, 4 Kelurahan Bebas Covid-19
Ketika proses rapid test, dirinya bersama dengan beberapa rekananya dinyatakan IgG reaktif.
Menurutnya, IgG itu infeksi sudah cukup lama yakni lebih dari dua minggu.
“Kemungkinan tertular lebih dari dua pekan. Mengenai penularan juga tidak jelas, ketika Covid itu ada kita selalu menggunakan APD dengan lengkap dalam menangani pasien dengan perlindungan level tiga seperti menggunakan azmat, faceshield,” ujarnya.
Pada awalnya, karena telah merasa menggunakan seluruh APD dalam menangani pasien, ia tenang-tenang saja dalam melayani pasien.
Meski demikian potensi penularan juga tetap dikhawatirkannya.
Diakuinya, potensi penularan bisa datang dari mana saja yang tidak bisa terdeteksi.
Setelah dinyatakan reaktif rapid test, dr Asro langsung mengikuti proses swab dan melakukan isolasi.
Selang dua hari menjalani swab, hasilnya menunjukkan konfirmasi positif.
“Saya kategori pasien tanpa gejala juga tidak, akan tetapi saya pasien dengan gejala ringan.
Karena sebelumnya saya merasakan ada sakit tenggorokan, batuk ringan, dan tidak ada demam,” ujarnya.
Ia mengaku tak mengalami gejalan spesifik.
• HANYA 6 Persen Sekolah di Indonesia Diperbolehkan Tatap Muka, Cek Kesiapan Sebelum Membuka Sekolah
“Sakit tenggorokan, batuk ringan dan kadang-kadang dan tidak ada demam. Karena tidak ada demam kita anggap penyakit biasa. Saya periksakan ke dokter THT kemungkinan ada virus,” katanya.
Begitu tahu dirinya terpapar Covid-19, dr Asro langsung meminta agar anggota keluarganya ikut diperiksa.
Ia lantas melewati proses isolasi di Upelkes milik Pemerintah Provinsi Kalbar.
Hal yang menjadi beban pikirannya bukanlah soal dirinya yang harus menjalani isolasi.
Karena dirinya melakukan kontak erat dengan keluarga di rumah.
Ia meminta petugas melakukan pelacakan terhadap orang-orang yang tinggal dengan serumah.
Hasilnya diidentifikasi istri, dua anaknya serta seorang pengasuh juga terkonfirmasi positif.
“Kami sekeluarga berlima positif sehingga saya memutuskan untuk bergabung melakukan isolasi di rumah bersama keluarga. Semuanya tidak ada keluhan. Batuk juga tidak ada apalagi demam,” ujarnya.
Dokter ramah ini lantas menyatakan Covid-19 bisa menginveksi siapa saja.
“Ini yang menjadi gambaran kita. Covid ini ada, riil bukan konspirasi. Ini bisa kita deteksi dari alat PCR,” katanya.
Lantaran sekeluarga positif, Asroruddin memilih menjalani isolasi mandiri di rumah mereka.
“Isolasi di rumah satu bulan. Akhir Mei kemarin negatif semua sekeluarga. Pengasuh yang pertama, saya dan anak-anak sepekan setelahnya. Kita tes swab enam kali. Yang ke enam negatif,” paparnya.
Selama karantina mandiri, Doker Asro menghabiskan waktunya berolah raga dan membaca novel. (*)