Yayasan Suar Asa Khatulistiwa Gelar Diskusi: Bangkit Bersama Menangkal Radikalisme di Masa Pandemi

Hal ini disampaikan Bahasan di dalam diskusi daring “Menangkal Ancaman Radikalisme di tengah Pandemi Covid – 19 di Pontianak” pada Rabu, 20 Mei 2020.

Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Yayasan Suar Asa Khatulistiwa Gelar Diskusi: Bangkit Bersama Menangkal Radikalisme di Masa Pandemi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Meski ancaman radikalisme masih minim di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, kita tidak boleh lengah.

Apalagi di masa pandemi ini dimana berita bohong (hoaks) dan siar kebencian banyak beredar.

Menurut Wakil Walikota Pontianak, Bahasan S.H, untuk menghindari ancaman radikalisme ini tentunya semua elemen pemerintah, organisasi dan masyarakat harus membangun dan memperkuat kerjasama.

Hal ini disampaikan Bahasan di dalam diskusi daring “Menangkal Ancaman Radikalisme di tengah Pandemi Covid – 19 di Pontianak” pada Rabu, 20 Mei 2020.

Diskusi ini diselenggarakan oleh yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA), organisasi masyarakat sipil yang bergerak dalam isu kebhinnekaan, perdamaian dan demokrasi.

Cegah Covid-19, Brigpol Yan Maro Sambang Warga Desa Balai Karangan Sampaikan Imbauan Larangan Mudik

Pantun Idul Fitri 2020 dan Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H

Hadir juga sebagai pemateri dalam diskusi yang dipandu oleh Dian Lestari dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah wakil dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB); Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalbar dan peneliti dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC).

Isu radikalisme di tengah pandemi mulai banyak dibahas di tingkat nasional dan global.

Dampak ekonomi dan sosial dari pandemi diperkirakan akan menciptakan krisis di masyarakat.

Banyak usaha mengalami penurunan penghasilan hingga gulung tikar sehingga perusahaan mengambil langkah PHK terhadap karyawan.

Di Indonesia, diperkirakan kemiskinan akan meningkat pada tahun 2020 antara 9,7 - 12,4% atau setara 1,3 juta hingga 8,5 juta jiwa.

Situasi ini tentu akan berdampak pada kesejahteraan sosial masyarakat dan dikuatirkan akan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok dengan paham radikalisme yang ingin memecah-belah persatuan bangsa.

Mawas pada potensi perpecahan bangsa secara khusus digarisbawahi oleh Iskandar, anggota FKUB Pontianak.

“Kita lihat akhir-akhir ini banyak berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan yang disebarkan kepada orang-orang lain. Ini menjadi sebuah masalah yang harus kita tangani bersama. Jangan cepat mengambil kesimpulan terhadap berita-berita yang belum ada kebenarannya,” pukasnya.

Hasil penelitian IPAC mengkonfirmasi berkembangnya radikalisme di tengah pandemi di Indonesia, yang terkait dengan jaringan terorisme dan serangan yang diarahkan kepada kepolisian, serta meningkatnya sentimen negatif pada etnis Tionghoa.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved