Virus Corona Masuk Kalbar
Gubernur Sutarmidji Ungkapkan Driver Ojol dan Sopir Taksi Jadi Sasaran Rapid Test
Selain itu, Sutarmidji berharap kabupaten kota juga menyediakan rapid test untuk deteksi dini dalam pencegahan penyebaran virus corona.
Penulis: Syahroni | Editor: Maudy Asri Gita Utami
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia tentunya mejadi pintu perlintasan manusia.
Melihat hal tersebut, postensi penyebaran virus corona juga semakin besar.
Sutarmidji menerangkan sangat banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dipulangkan dari Malaysia.
Ia menegaskan setiap PMI yang dipulangkan dari Malaysia maupun yang lainnya, status mereka adalah orang dalam pemantauan.
• UPDATE Corona Kalbar - Bertambah 2 Kasus, Total 120 Pasien Covid-19 Per Minggu 10 Mei 2020
“PMI yang dipulangkan setelah diperiksa langsung jadi ODP. Mereka diisolasi dalam beberapa hari sebelum dinyatakan benar-benar bebas dari virus atau kesehatannya benar-benar stabil,” ucap Sutarmidji saat diwawancarai, Minggu (10/5/2020).
Mantan Wali Kota Pontianak dua periode ini menuturkan saat ini PMI yang paling banyak adalah daerah Sambas.
Oleh sebab itu, ia menegaskan Pemda setempat (Pemkab Sambas) diharapkan sudah paham betul bagaimana menangani para PMI yang datang dari Malaysia.
“Saya berharap Pemda setempat sudah faham apa yang barus mereka lakukan,” ujarnya.
Selain itu, Sutarmidji berharap kabupaten kota juga menyediakan rapid test untuk deteksi dini dalam pencegahan penyebaran virus corona.
Pemprov Kalbar ditegaskannya juga akan membantu dalam penyediaan rapid test, namun kabupaten kota juga diharapkannya menyediakan.
“Selain bantuan dari Pemprov, kabupaten kota saya harapkan juga menyediakan rapid test. Melihat data dari provinsi, daerah yang sudah membeli sendiri rapid test adalah Landak dan Pontianak,” sebutnya.
Kemudian Midji menuturkan saat ini sudah 20.000 warga Kalbar yang dilakukan rapid test.
Dari angka tersebut terdapat 600 an orang dinyatakan reaktif .
Namun kabar baiknya, sebagian sudah dinyatakan non reaktif karena mereka mau mentaati protokol kesehatan dan menjaga imun tubuhnya.
Mereka yang reaktif rata rata orang tanpa gejala (OTG).