Human Interest Story
Deden, Sekjen IKA FISIP Untan Wafat, Publik Terhenyak Banyak yang Doakan Husnul Khatimah
Kepergiannya yang mendadak sontak membuat publik terhenyak, lantaran beberapa hari sebelumnya Deden masih sempat menyapa teman-temannya.
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Didit Widodo
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana/Septi Dwi Sabrina
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TRIBUN - Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke ramhmatullah, tokoh muda Kota Pontianak, Deden Ari Nugraha SSos yang akrab dipanggil Aak Deden. Beliau menghembuskan nafas terakhir di kediamannya di Komplek Griya Atikah No 10, Jalan Ujung Pandang, Pontianak Kota, Rabu (6/5/2020) pukul 06.35 WIB.
Almarhum Deden pernah menjabat anggota DPRD Kota Pontianak. Semasa hidupnya almarhum dikenal supel dalam bergaul dengan banyak kalangan di Kota Pontianak, terutama di kawasan Siantan Pontianak Utara.
Kepergiannya yang mendadak sontak membuat publik terhenyak, lantaran beberapa hari sebelumnya Deden masih sempat menyapa teman-temannya.
Beliau aktif di banyak organisasi, seperti menjabat Sekjend IKA FISIP Untan, Sekum IMI Kalbar, dan pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Kalbar periode 2020-2025, sebagai Wakil Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini.

Berita duka cita Deden menjadi Viral di media sosial Facebook, Golkar Kalbar Berduka demikian kata Maman, Ketua DPD Golkar Kalbar. Jajaran PP IKA FISIP Untan juga menyampaikan duka cita yang dalam.
“Segenap Pengurus Pusat IKA FISIP Untan sangat kehilangan sosok Deden,” kata Ketua 1 PP IKA Untan, Suparman Ssos mewakili Ketua Umum, Dra Utin Srilena Msi.

Sulung tiga bersaudara ini menghembuskan nafas terakhir di usia 39 tahun karena asam lambung yang mengejar jantungnya. Sang adik, Oky sejak awal mewakili almarhum memohon maaf segala kesalahan hingga meminta teman, sahabat, dan warganet membantu mendoakan abangnya yang ia panggil Aak ini.

Sementara itu, para sahabat juga turut menyampaikan bela sungkawa pada mendiang Deden. Mereka banyak mendoakan almarhum meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah (baik), karena wafat dalam Bulan Ramadan yang merupakan sebuah keistimewaan.
Memang sejak beberapa tahun terakhir, Deden tekun mandalami ilmu agama. Bahkan ada pengurus pondok yatim di Kubu Raya mengungkapkan, bahwasanya Deden kerap bersedekah beras tiap bulannya, tanpa mau diekspos.
“Innalillahi wa Inna illaihi rojiun. InsyaaAllah husnul khatimah. Meninggal di bulan Ramadan adalah kebaikan. Apalagi beliau rajin bersedekah,” kata Wira, sejawatnya di Parpol Golkar.

Sementara Ketua Pengurus Provinsi Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kalbar, Yuliansyah mewakili keluarga besar IMI Kalbar menyatakan sangat kehilangan sosok seorang teman dan juga seorang Sekum IMI. Semasa hidup, kenang dia, Almarhum Deden sering memberi masukan untuk otomotif Kalbar.
"Almarhum terus bersama kita dalam suka dan duka. Berjuang di IMI agar otomotif dan komunitas terus melakukan kegiatan, sehingga IMI Kalbar menjadi yang terbaik. Selamat jalan kawan ku, semoga amal dan perbuatan mu diterima Allah SWT, amin," tutupnya.

Kembali ke Amalan
Wafatnya Deden merupakan sederetan muslim yang meninggal saat Bulan Ramadan. Banyak yang beranggapan ada keistimewaan tersendiri bagi mereka yang meninggal dalam Bulan Ramadan ini. Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terkait hal ini ?
Dijelaskan Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin, Kabupaten Kubu Raya, KH Zamroni Hasan. Sebenarnya kata dia, yang meninggal di bulan suci Ramadan tak menjamin dalam keadaan Husnul Khatimah. Semuanya kembali kepada amalan yang telah dilakukan bersangkutan sebelum meninggal dunia.
"Tapi saya temukan sebuah hadist, ketika seseorang muslim meninggal dalam keadaan berpuasa dan dikerjakan semata-mata memperoleh ridhonya Allah SWT maka langsung mendapat jaminan surga," ujarnya, Kamis (7/5)

Namun KH Zamroni, mengajak umat muslim agar senantiasa berpikir optimistis dengan keistimewaan Bulan Ramadan. "Bulan ini adalah penuh berkah, optimisme saja dari keberkahan-keberkahan bulan suci ini. Jika almarhum orang baik tentu akan menambahkan kebaikannya," terangnya
KH Zamroni menerangkan dalam suatu riwayat hadist shahih (HR Ahmad Nomor 22.173, dinilai sahih oleh Syekh Albani dalam Ahlamul Jana-iz), ketika meninggal, siapa yang mengucapkan Laa ilaha illallah, dan mengucapkannya dengan ikhlas hanya mencari keridhaan Allah, maka jaminannya adalah surga.
"Kemudian, meninggal saat berpuasa dan bersedekah dengan penuh keikhlasan, dan ia mengakhiri hidupnya dengan ibadah itu, maka ia masuk surga," imbuhnya.

KH Zamroni pun berpesan kepada umat muslim agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan perbanyak amalan-amalan kebaikan di bulan penuh ampunan ini.
"Banyak sekali keberkahan di bulan Ramadan. Semoga spirit kita di bulan Ramadan ini terus meningkat hingga memasuki 10 hari terakhir nanti. Tetap istikomah mengerjakan amalan-amalan kebaikan untuk bekal kita kelak ketika telah meninggal dunia," katanya.
