Liputan Khusus

Sejarah Panjang Masjid Lautze Bernuansa Kelenteng

Sebelum pandemi corona atau covid-19, kita akan melihat ratusan warga Tionghoa khusyuk salat berjemaah.

Sejarah Panjang Masjid Lautze Bernuansa Kelenteng
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Masjid Lautze

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - TAK ada kubah di Masjid Lautze. Bangunan masjid berwarna mentereng: merah, kuning, hijau.

Mengingatkan kita bak kelenteng. Dari bangunan rumah toko ini, pusat syiar Islam di kalangan masyarakat etnis Tionghoa Jakarta berkumandang.

Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze 87-89, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Lokasinya di antara rumah toko dan gudang.

Dari depan bangunan terdapat kanopi mirip atap kelenteng. Papan putih terpajang dengan tulisan Yayasan Haji Karim Oei.

Luas lahan masjid hanya sekira 100 meter. Ruko itu berdiri dengan pemandangan kabel-kabel listrik yang menjulur di depannya.

Masjid terdiri dari empat lantai: lantai satu dan dua tempat ibadah, lantai tiga ruang sekretariat, dan lantai empat sebagai ruang serbaguna.

Keutamaan Shalat Tarawih Malam 1-30 Ramadhan

Dekorasi masjid bernuansa Tionghoa. Dinding tempat salat berwarna kuning dan putih dihiasi kaligrafi percampuran seni Arab dan Tionghoa di dekat mimbar masjid. Kaligrafi Shu Fa itu menonjol di kertas putih.

Sebelum pandemi corona atau covid-19, kita akan melihat ratusan warga Tionghoa khusyuk salat berjemaah.

Mereka yang salat di Masjid Lautze, kebanyakan adalah warga Tionghoa yang menjadi mualaf atau memeluk agama Islam.

Masjid Lautze memiliki sejarah panjang. Ketua Yayasan Haji Karim Oei, H Ali Karim Oei (65 tahun) mengatakan masjid dibangun pada 1993. Dua tahun setelah Yayasan Haji Karim Oei didirikan.

Halaman
123
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved