Human Intrest Story

Kisah Pengabdian Enita Bidan PTT Kemenkes RI, Pernah Gunakan Tandu Rujuk Ibu Hamil ke Rumah Sakit

nita yang berasal dari Kota Pontianak harus menempuh perjalanan selama satu hari untuk sampai ke Nanga Pinoh, tempatnya mengabdi.

TRIBUN PONTIANAK/Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Enita Triana melayani pasien hamil di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), belakang Kantor Desa Sungai Keran, Jalan Raya Sungai Keran, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Rabu (22/4/2020). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Enita Triana menjadi bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Kementerian Kesehatan RI pertama kali pada 1995 di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Tanjungsari, Nanga Pinoh, Kabupaten Sintang pada saat itu, selama enam tahun hingga 2001.

Enita sebelumnya menempuh pendidikan sekolah perawat kesehatan (Spk) di Departemen Kesehatan (Depkes) Kota Pontianak tamatan tahun 1995, lalu melanjutkan bidan program A di Jakarta. Baru satu Minggu berada di Kota Pontianak, ia langsung ditugaskan ke Nanga Pinoh.

Enita yang berasal dari Kota Pontianak harus menempuh perjalanan selama satu hari untuk sampai ke Nanga Pinoh, tempatnya mengabdi.

Kala itu, masih terdapat dukun beranak. Masyarakat pun cenderung mempercayai dukun daripada tenaga kesehatan bidan.

Banyak masyarakat yang tidak memeriksakan kehamilan, usia perkawinan muda, terlalu tua, terlalu banyak anak bahkan pernah ada angka kematian.

Profil Lengkap Fika Meldita, Pengusaha Cantik yang Sukses di Bidang Konstruksi

Enita Triana melayani pasien hamil di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), belakang Kantor Desa Sungai Keran, Jalan Raya Sungai Keran, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Rabu (22/4/2020).
Enita Triana melayani pasien hamil di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), belakang Kantor Desa Sungai Keran, Jalan Raya Sungai Keran, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Rabu (22/4/2020). (TRIBUN PONTIANAK/Ridhoino Kristo Sebastianus Melano)

Bersama mantri yang juga merupakan orang setempat, bidan Enita memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di sana. Pengabdian yang berhasil dilakukan membuatnya bahagia. Ia pun memiliki banyak teman dan pengalaman baru.

"Yang membuat sedihnya tu, udah diterangkan juga masih ngak ngeh gitu," katanya, Rabu (22/4/2020).

Selama menjalani tugasnya di sana, ia bersyukur tidak ada terjadi angka kematian ibu dan bayi, walaupun untuk melakukan rujukan kesehatan sangat sulit pada saat itu.

Medan yang berat cukup menyulitkan akses transportasi.

Bila hujan jalan menjadi becek, pada cuaca panas akan berdebu dan bila merujuk pasien harus menggunakan mobil double gardan. Satu-satunya cara bila terjadi situasi penting, pasien harus ditandu.

Halaman
1234
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Zulkifli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved