'Selamatkan Bumi Dari Rumah' Jadi Tema Yayasan Palung Peringati Hari Bumi Sedunia

Cerita pilu yang ia alami hingga saat ini tak kunjung berhenti menerpa dan mendera.

Editor: Zulkifli
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA/Yayasan Palung
Ajakan Yayasan Palung dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia Tahun 2020. 

Kini bumi menanti aksi-aksi nyata, jika bukan kita semua siapa lagi. Bumi menanti asa dari semua orang untuk peduli padanya.

Berikut Peserta Peraih Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat yang Digelar Yayasan Palung

Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain, tantangan kreativitas #DiRumahAja , khusus untuk masyarakat Kalbar, membuat kerajinan tangan yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari dari barang bekas.

Berbagi pengetahuan tentang perubahan iklim oleh relawan TAJAM lewat live streaming Instagram @rk_tajam yang akan dilaksanakan pada Rabu, 22 April 2020, pukul 15.00 - 14.00 Wib.

Selain itu relawan REBONK membuat video singkat tentang pendapat dari beberapa orang tentang hari bumi.

Mariamah Achmad, sebagai Manager Pendidikan Lingkungan dan media kampanye Yayasan Palung, mengatakan pengelolaan sumber daya alam Indonesia masih kurang memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Ditambah lagi hingga saat ini Indonesia masih dominan menerapkan pembangunan dengan konsep pertumbuhan ekonomi dimana lingkungan menjadi pertimbangan terakhir, sementara bumi secara ekologi memiliki daya dukung yang terbatas.

"Saat ini bumi sedang menghadapi tantangan persoalan lingkungan yang terus meningkat, seperti perubahan iklim, kekeringan, kelangkaan air, banjir, dan pencemaran. Keberadaan sumber daya alam yang berlimpah dan mendukung kemakmuran rakyat perlahan-lahan tinggal cerita, kenangan manis berganti menjadi kenyataan pahit," kata Mariamah.

Lebih lanjut Mayi sapaan akrabnya mengatakan banjir yang terjadi di mana-mana dan kerap kehilangan mata air menimbulkan kekeringan ketika musim kemarau tiba.

Di perkotaan hujan lebat 1 jam saja akan menyebabkan air menggenang di jalanan, sungai tidak mampu lagi menampung air hujan maupun pasang air laut akibat dari sedimentasi dan sampah warga, banyak spesies di hutan dan di laut menuju kepunahan.

"Bumi benar-benar sedang memberi sinyal agar kita lebih peduli padanya. Pemerintah dan para wakil rakyat, buatlah kebijakan yang pro lingkungan, warga masyarakat ayolah berprilaku lebih ramah terhadap keberlanjutan lingkungan, kalau tidak kita siapa lagi, dan kalau tidak sekarang, kapan lagi?," tanya Mayi.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved