Wabah Virus Corona

Angka Kematian dan Kasus Covid-19 di Wuhan China Melonjak hingga 50% Akibat Revisi Data

Lonjakan itu terjadi karena Otoritas Kesehatan Wuhan, China telah merevisi angka kematian akibat virus corona

AFP/STR/CHINA OUT
Ilustrasi - Pasien dengan gejala ringan virus corona COVID-19 beraktivitas saat menjalani perawatan di sebuah pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit darurat di Wuhan, Hubei, China (17/2/2020). Data hingga Rabu (19/2/2020) ini, korban meninggal akibat virus corona di China sudah mencapai 2.000 orang setelah dilaporkan 132 kasus kematian baru. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, WUHAN - Angka kematian dan kasus virus corona atau covid-19 di Wuhan, China tiba-tiba melonjak. 

Bahkan, peningkatannya mencapai lebih dari 50 persen dari data sebelumnya.

Lonjakan itu terjadi karena Otoritas Kesehatan Wuhan, China telah merevisi angka kematian akibat virus corona.

Dikutip Kompas.com dilansir dari Hong Kong Free Press, Pusat Pencegahan dan Kontrol Epidemi Wuhan, mengumumkan total korban meninggal dunia adalah 3.869 orang, hingga Jumat (17/4/2020) .

WUHAN Terupdate - Virus Corona Mereda di China, Rumah Sakit yang Dibangun Dalam Dua Minggu Ditutup

Angka itu naik 1.290 dari catatan sebelumnya, yakni 2.579 orang.

Kemudian, jumlah kasus secara keseluruhan di Wuhan direvisi menjadi 50.333 kasus, dengan tambahan 325 kasus.

Perubahan ini juga membuat jumlah kasus dan korban meninggal di China juga meningkat.

Dikutip Kompas.com dilansir dari AFP, data nasional resmi China pada Jumat (17/4/2020) merevisi jumlah korban meninggal virus corona menjadi 4.632 orang.

Angka itu naik 39 persen dibandingkan data sebelumnya.

Pihak berwenang mengatakan, revisi dibuat setelah memasukkan data pasien yang tidak dirawat di rumah sakit dan meninggal di rumah.

Hal itu terjadi karena keterbatasan fasilitas medis di tahap awal wabah corona merebak.

Mantan Kepala Intelijen Inggris Tuding China Sembunyikan Informasi Paling Penting terkait Covid-19

Pada awal 2020, banyak rumah sakit kelebihan beban dan petugas medis sangat sibuk menyelamatkan nyawa pasien.

Hal ini menyebabkan keterlambatan dan pengawasan dalam melaporkan kasus, kata pihak berwenang, dikutip dari Hong Kong Free Press.

Beberapa fasilitas juga tidak segera terhubung dengan jaringan epidemi yang lebih luas, sedangkan informasi yang berkaitan dengan kematian tidak lengkap yang menyebabkan kesalahan pelaporan atau penghitungan ulang.

Virus corona pertama kali terdeteksi di Provinsi Hubei, dan hingga kini telah menjangkiti lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved