Breaking News:

Setelah Putusan Bebas Peladang, Selanjutnya Bagaimana?

Praktik berladang dengan berkearifan lokal menjadi kunci atas usaha bertani masyarakat di komunitas secara turun-temurun...

IST/DOK Persatuan Peladang Tradisional Kalbar
BERSIHKAN LADANG - Sejumlah perempuan peladang membersihkan ladang dari rumput. 

Selain itu, hal penting lainnya agar jangan ada tindakan ‘manipulasi’ oleh oknum yang mengatasnamakan Peladang dalam membuka lahan untuk kepentingan tertentu. Terhadap hal ini, Peladang ke depan penting lebih waspada dan bertindak. Bila perlu mengorganisir diri untuk melakukan pengawasan terhadap praktik pembukaan lahan oleh sejumlah oknum melalui cara bakar untuk kepentingan tertentu yang rentan berdampak menyudutkan Peladang.

Sedangkan pada tataran jangka panjang, penting juga mendesak adanya pemahaman bersama bahwa pembelaan Peladang harus didasarkan dan berfokus pada pertimbangan kemanusiaan, ketidakadilan yang dialami, rasa senasib sepenanggungan dan keberpihakan, bukan karena kepentingan jangka pendek oknum atau kelompok tertentu hanya untuk tujuan politik semata. Sekalipun fakta di lapangan tidak dapat dipungkiri mengkonfirmasi adanya sisi politis turut mewarnainya. Namun, seiring berjalan waktu dengan berbekal rekam jejak, konsistensi keberpihakan yang ada akan menjadi saksi sejauh mana pembelaan tersebut masih akan tetap ada hari ini dan esok.

HASIL LADANG - Bagi peladang tradisional di Kalbar, hasil ladang tak hanya padi namun juga sayur-mayur, tanaman obat-obatan, serta yang lainnya. Hasil ladang dalam gambar ini dikenal juga dengan
HASIL LADANG - Bagi peladang tradisional di Kalbar, hasil ladang tak hanya padi namun juga sayur-mayur, tanaman obat-obatan, serta yang lainnya. Hasil ladang dalam gambar ini dikenal juga dengan "Perenggi". (IST/DOK Persatuan Peladang Tradisional Kalbar)

Apresiasi dan Kebangkitan Peladang
Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa kaum tani memiliki peran penting dan strategis dalam menopang kelangsungan hidup berbangsa suatu negara, termasuk Indonesia. Karenanya, Peladang sebagai salah satu komponen penopang ekonomi di daerah melalui praktik bertani turun temurun mestinya perlu diakui keberadaannya.

Salah satu langkah yang realistis mulai dapat dilakukan adalah dengan menyampaikan apresiasi, terima kasih dan salam hormat kepada kaum tani/Peladang atas nasi dan hasil pertanian lainnya yang setiap hari kita santap. Wujud tindakan sederhana bisa dimulai dengan turut menyebut Peladang dalam setiap bait doa jelang maupun setelah makan, menghabiskan nasi yang disantap maupun dalam bentuk langkah sederhana lainnya.

DISEGEL - Ladang yang disegel aparat hukum di Kalbar, beberapa waktu lalu.
DISEGEL - Ladang yang disegel aparat hukum di Kalbar, beberapa waktu lalu. (IST/DOK Persatuan Peladang Tradisional Kalbar)

Untuk selanjutnya, tentu perjuangan bagi Peladang belum berakhir dan masih panjang. Dua Peladang asal Sanggau masih dalam proses hukum kini dan juga menanti keberpihakan negara untuk mendapatkan keadilan melalui putusan bebas Majelis Hakim yang menanganinya. Vonis bersalah sebagaimana beberapa putusan atas Peladang lainnya sebetulnya menjadi tidak baik bagi Peladang, namun juga mengkonfirmasi presenden buruk dan kegagalan negara hadir berpihak pada rakyatnya yang mengusahakan pemenuhan pangan melalui kegiatan berladang selama ini. Sementara korporasi yang alami kebakaran di konsesinya dan menjadi penyebab petaka asap justeru tidak tersentuh hukum yang tegas.

Karenanya, memastikan produk hukum dan kebijakan berpihak pada Peladang menjadi pekerjaan rumah bersama yang perlu diraih ke depan. Selain itu, upaya untuk menggali pengetahuan dan mendokumentasikan praktik berladang dengan aneka jenis varietas padi yang biasa ditanam pada berbagai masyarakat di komunitas juga perlu segera dimulai oleh ‘generasi Peladang’ saat ini. Agar public kian melek dan memahami mengenai praktik berladang berkearifan lokal yang dilakukan.

TANAM PADI - Para peladang tradisional di Kalbar menanam padi di ladang mereka. Kegiatan ini dalam bahasa Dayak Ahe disebut dengan
TANAM PADI - Para peladang tradisional di Kalbar menanam padi di ladang mereka. Kegiatan ini dalam bahasa Dayak Ahe disebut dengan "Nugal". (IST/DOK Persatuan Peladang Tradisional Kalbar)

Pun demikian tentu putusan bebas atas para Peladang tidak lantas harus membuat kita lupa, bahwa tantangan serius bagi Peladang sedang di depan mata. Sekalipun Gubernur beberapa waktu terakhir sempat melontarkan pernyataan akan membuat ‘Pergub Peladang’, tetapi bisa saja hal tersebut hanya jualan saja. Karena toh Pergub yang dimaksud juga belum terbit. Pada sisi lain kini, pemerintah bahkan sedang mendorong Raperda Pencegahan Karhutla ‘Pekara’ Kalimantan Barat yang kini sedang digodok, namun secara substansi kiblatnya masih belum berpihak pada Peladang?! Bahkan ‘Raperda Pekara Peladang’ tersebut rentan menjadi dasar hukum di daerah untuk menghentikan praktik berladang dengan cara yang seolah ‘beradab’?!

Karenanya, putusan bebas terhadap enam Peladang sedianya menjadi momentum penting untuk memastikan kemerdekaan bagi para Peladang dalam mengusahakan pangan untuk hidup dan keberlanjutan kehidupan. Tonggak penting guna memastikan Peladang tetap berdaulat atas pangan dan sumber kehidupannya yang diikuti dengan produk hukum yang jelas dan tegas berpihak pada mereka. Bebasnya enam Peladang sejatinya momentum penting guna meneguhkan keberpihakan pada praktik berladang berkearifan lokal oleh masyarakat di komunitas. Saat yang baik pula jika boleh kita diamini, 9 Maret (lalu) sebagai ‘Hari Kebangkitan Peladang’ di Nusantara. (*/Penulis juga aktivis Wahana Lingkungan Hidup atau Walhi Kalbar)

Penulis: Stefanus Akim
Editor: Stefanus Akim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved