Perempuan Rentan Terhadap Pelecehan Seksual, FKMS Dorong Korban Tidak Diam Diri

Menurut Suci, godaan verbal di jalanan yang biasa disebut dengan Catcalling termasuk pelecehan verbal dan sangat menggangu.

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA/Dayat
Sekjen FKMS, Suci Cisika Putri. 

SINTANG - Pelecehan seksual baik fisik maupun non fisik rentan dialami perempuan.

Namun, tak banyak para korban yang melaporkan ke penegak hukum.

Banyak dari penyintasnya memilih diam dan memendamnya rapat-rapat.

Tak sedikit pula yang mengalami traumatic berkepanjangan.

Cara Vietnam Sukses Sembuhkan Semua Pasien Covid-19 dengan Cara Sederhana & Bisa Dicontoh Indonesia

“Data kekerasan seksual di Kabupaten Sintang relative sedikit. Ada dua kemungkinan. Yang pertama tindakan pelecehan dan kekerasan seksual jarang terjadi, atau terdapat kemungkinan bahwa korban trauma dan tidak berani untuk melapor. Ada banyak faktornya,” ungkap Sekjen Forum Komunikasi Masyarakat Sipil (FKMS) Kabupaten Sintang, Suci Cisika Putri.

Menurut Suci, godaan verbal di jalanan yang biasa disebut dengan Catcalling termasuk pelecehan verbal dan sangat menggangu.

Suci termasuk korban godaan verbal yang mengakibatkan rasa tidak aman di jalanan.

“Saya termasuk korban Catcalling. Orang di jalanan siul-sul. Kebetulan saya sering ke tempat umum. Kadang saya bertanya pada diri sendiri, ‘apakah pelecehan seksual itu karena saya pakai bajut ketat’. Tapi, ketika saya pakai baju tertutup di jalan raya, teman saya muslimah, itu juga masih kena. Ini karena memang pakaian korban atau memang maindset pelaku,” ujar Suci.

Suci tidak berdiam diri lantas mengabaikan Catcalling tersebut.

Dia berupaya bangkit dan protes karena tidak terima dengan perlakuan tidak mengenakan tersebut.

Halaman
123
Penulis: Agus Pujianto
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved