Aksi Bela Peladang

Refleksi Kasus Peladang, Mungkinkah Dayak Memijakan Diri pada 'Budaya Kriminal'

Hukum justru melakukan deligitimasi terhadap salah satu pilar bangunan kebudayaan masyarakat Dayak tersebut sebagai hal yang bersifat kriminal.

TRIBUNPONTIANAK/WAHIDIN
Pengamat dan Praktisi Kebudayaan Dayak, Bambang Bider. 

PONTIANAK - Pengamat dan Praktisi Kebudayaan Dayak, Bambang Bider menilai bahwa berladang tidak lagi sebagai aktivitas menghidupi kebudayaan Dayak.

Nilai-nilai luhur berladang tengah diberangus justru oleh hukum.

Mulai saat ini aktivitas berladang pada masyarakat Dayak bukan lagi aktivitas membangun kebudayaan mereka, namun suatu tindakan melawan hukum.

Sesuatu yang bersifat kriminal.

Sidang Putusan Enam Peladang, Yohanes Rumpak: Tetap Santun, Beradat dan Jalani Aksinya dengan Damai

"Tuntutan hukum terhadap peladang dari masyarakat Dayak menimbulkan ironi, di mana justru tuntutan hukum pada peladang; berusaha mendelegitimasi kearifan tradisional masyarakat Dayak itu sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai," katanya, Minggu (8/3/2020). 

Hukum justru melakukan deligitimasi terhadap salah satu pilar bangunan kebudayaan masyarakat Dayak tersebut sebagai hal yang bersifat kriminal.

Tuntutan terhadap para peladang, bagi masyarakat Dayak tidak hanya dilihat sebagai tuntutan yang bersifat personal; di mana hal tersebut hanya dilihat dari aspek hukum kriminal ansih, namun para peladang juga dilihat sebagai presentasi masyarakat yang menghidupi dan menjaga kearifan leluhur masyarakat Dayak itu sendiri.

Artinya tuntutan hukum terhadap para peladang telah gagal memahami dan mempertimbangkan konteks yang justru lebih vital, yaitu penghormatan dan penghargaan terhadap kebudayaan Dayak.

"Ke depan, apakah masyarakat Dayak masih bisa bangga dengan kepala tegak menghidupi kebudayaan mereka," ungkapnya.

Apakah gawai Dayak; tahun baru padi; ritual-ritual adat dan hukum adat masih dengan bangga menganggap mereka memiliki pijakan budaya yang arif atau malah secara memalukan memiliki pijakan yang dianggap menumbuhkan nilai-nilai kriminal yaitu berladang.

Mulai hari ini, mungkinkah masyarakat Dayak memijakan akar kebudayaan mereka pada budaya kriminal?

Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Stefanus Akim
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved