Budidaya Madu Kelulut, Agus Raup Omzet Rp 3-5 Juta Per Bulan

Satu botol madu berisi 250 ml dijual seharga Rp 150 ribu. Sedangkan yang dikemas dalam botol 500 ml dijual seharga Rp 250 ribu.

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK/Adelbertus Cahyono
Agus M Imran memanen madu kelulut di kediamannya di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Senin (2/3/2020). 

KAYONG UTARA - Agus M Imran sudah dua tahun berbudidaya madu kelulut di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Saat ini, dia sudah memiliki sekitar 100-an sarang terbuat dari kayu berbentuk kotak yang diberi atap.

Sarang-sarang ini ditempatkan di tiga lokasi berbeda.

Beberapa diantaranya persis di dekat rumah. Sisanya di Satong dan Kuala Tolak, Kabupaten Ketapang.

Benarkah Madu Bisa Cegah Penularan Virus Corona? Ini Manfaat dan Khasiat Madu Bagi Tubuh Manusia

Agus memulai budidaya sejak 2017.

Dia mendapat bibit lebah trigona dari seorang rekan.

Setelah mencari referensi di media sosial, dia pun mulai mengembangkan sendiri budidaya madu kelulut.

"Awal-awalnya kita juga masuk hutan, lihat ada enggak. Dia ini kan rata-rata bersarangnya di kayu-kayu yang lapuk itu, yang udah berlubang," kata Agus di kediamannya, Senin (2/3/2020) sore.

Bila dirata-ratakan, dalam sebulan Agus mampu memanen sebanyak 15-20 liter madu.

Namun, di saat bunga banyak bermekaran, Agus bisa mendapat hasil lebih banyak.

Dari jumlah itu, dia mampu meraup omzet Rp 3-5 juta.

"Tapi kalau musim kabut atau kebakaran agak kurang," tutur Agus.

Agus menjual produk yang diberi nama Madu Kelulut Sukadana ini untuk pasar Sukadana dan sekitarnya.

Meski sesekali, madu-madu ini juga dijual ke Bogor dan Bandung.

Agus melakukan penjualan secara online.

Satu botol madu berisi 250 ml dijual seharga Rp 150 ribu.

Sedangkan yang dikemas dalam botol 500 ml dijual seharga Rp 250 ribu.

Menurut Agus, harga madu kelulut di Kayong Utara dan Ketapang memang paling tinggi di Kalimantan Barat.

Berbeda dengan di Sambas yang harganya anjlok, lantaran stok banyak.

"Tapi saya biasanya panen berdasarkan pesanan. Saya ndak stok di botol, karena kan lebih bagus nyetok di sarangnya. Tapi idealnya panen tiap tiga bulan," papar Agus.

Agus menceritakan, berbudidaya madu kelulut tidak memerlukan banyak biaya.

Dia hanya mengalami kesulitan saat mencari papan kayu untuk membuat sarangnya.

"Ini yang lebih berat daripada kita cari bibit. Bibit sih ada jual, kawan-kawan itu biasa ada jual," ungkap Agus. (*)

Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved