Mengenal Uniknya Babi Berjanggut, 'Penjelajah Tak Kenal Lelah' yang Kian Terancam Punah
Babi berjanggut merupakan salah satu spesies mamalia yang telah diidentifikasi di daerah Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar.
Mengenal Uniknya Babi Berjanggut, 'Penjelajah Tak Kenal Lelah' yang Kian Terancam Punah
Tidak banyak yang tahu, Babi berjenggot (Sus barbatus) atau babi janggut, adalah sejenis babi liar (babi hutan) yang menyebar di Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, dan Kepulauan Sulu.
Babi palawan (S. ahaenobarbus) sebelumnya dimasukkan sebagai anak jenis babi berjenggot, tetapi kini dianggap sebagai spesies tersendiri.
Keanekaragaman hayati di Indonesia dengan hutan tropis terluas di dunia merupakan satu diantara habitatnya.
Tak heran, banyak ditemukan banyak jenis flora dan fauna yang hidup di sini.
Salah satu hewan yang menjadi perhatian dan mungkin asing untuk dilihat adalah babi berjanggut.
Babi berjanggut merupakan salah satu spesies mamalia yang telah diidentifikasi di daerah Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar.
• Gubernur Edy Rahmayadi Angkat Bicara, Respons Aksi Save Babi di Medan Sumatera Utara Sumut
Babi ini memiliki rambut di sepanjang rahang bawah yang menyerupai janggut dan menjadi ciri khasnya.
Babi berjanggut memiliki tubuh besar, beratnya bisa mencapai 120-200 kilogram.
Babi jantan biasanya memiliki panjang tubuh dari 137-152 cm, sedangkan yang betina sekitar 122 -148 cm.
Saat usia muda, babi ini memiliki janggut berwarna kehitaman yang kemudian menjadi pucat seiring bertambahnya usia.
Sementara babi berjanggut dewasa mempunyai janggut dengan perpaduan warna abu-abu, kuning atau putih.
Habitat alami spesies ini adalah hutan dan mereka hidup secara nomaden.
Kawanan babi berjanggut akan pindah ke rumah baru yang memiliki sumber makanan lebih banyak.
Babi berjanggut diketahui termasuk hewan pemakan segala.
• Waspada, Hampir 50 Ribu Ekor Babi Mati Mendadak dan Gubernur Berencana Memusnahkannya
Ia mengonsumsi buah-buahan, biji-bijian, hingga binatang kecil yang jatuh di tanah seperti cacing dan serangga.
Spesies ini telah dinyatakan berstatus rentan punah sejak 2008.
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mencatat, terjadi penurunan signifikan pada populasi babi berjanggut.
Dalam 21 tahun atau setara dengan tiga generasi, terjadi penurunan hingga 30%.
Diduga penyebabnya adalah hilangnya habitat spesies akibat eksploitasi dan degradasi hutan.
Sebenarnya, babi berjanggut dapat hidup di lingkungan yang paling terdegradasi.
Kemampuannya beradaptasi dan menjadi pemakan segala menjauhkannya dari ambang kepunahan.
Namun, fakta bahwa ia masih terancam menunjukkan bahwa degradasi hutan Kalimantan sudah parah.
Selain itu, ada beberapa warga lokal yang memburu babi berjanggut untuk dikonsumsi.
Penjelajah Tak Kenal Lelah
Tak hanya ada di Semenanjung Kampar Riau, Babi Berjanggut juga ddapat ditemukan di Kalimantan atau disebut pula Borneo kaya akan keanekaragaman hayati.
Pulau ini rumah bagi banyak spesies unik.
Tanaman uniknya termasuk Nepenthes pemakan daging serta Rafflesia arnoldii, bunga terbesar di dunia yang mengeluarkan bau daging busuk.
Hewan-hewan seperti orang utan, gajah kerdil Kalimantan, macan tutul, monyet berhidung panjang dan tupai tanah juga hidup di pulau tersebut.
Salah satu spesies yang jarang disebutkan adalah babi berjanggut, Sus barbatus.
Babi berjanggut adalah hewan yang paling simbolis untuk pulau tersebut.
Babi hutan ini dinamai babi berjanggut karena ia memiliki bulu yang melengkung ke atas dan ke depan, menutupi pipinya dan rahang bawahnya.
Ada dua subspesies: S. barbatus oi hanya ada di Sumatra, dan S. barbatus barbatus hidup di Semenanjung Malaya dan Kalimantan.
Babi berjanggut adalah penjelajah yang tidak kenal lelah.
Ia menjelajah sendirian dan dalam kelompok besar. Ia sering melakukan perjalanan ratusan kilometer untuk mencari makanan yang disukainya.
Karenanya, babi berjanggut memainkan peran penting sebagai tukang kebun hutan Kalimantan. (*)