Gubernur Sutarmidji Usulkan Tata Niaga Ekspor Kratom Saat Pertemuan di Kantor Staf Kepresidenan

Dalam pembicaraan di KSP Midji, menegaskan tidak untuk mengambil keputusan tapi mematangkan kajian-kajian tentang kratom.

TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji 

Misalnya diabet akut dengan luka menganga dan penyakit lainnya yang menimbulkan nyeri luar biasa.

"Jadi saya menyampaikan hal-hal itu dan perlu dikaji lagi. Kalaupun harus dilarang kedepannya maka harus dicarikan solusi untuk mereka yang selama ini menjadikannya mata pencarian," tambahnya.

Kemudian harus da solusi tumbuhan untuk wilayah yang ditumbuhi kratom.

Pasalnya masalah lingkungannya akan lebih besar, kalau kratom dimusnahkan timbul banjir dan sebagainya karena tidak ada tumbuhan pengganti.

Danau Sentarum, kawasan tepian kapuas dan kawasan yang rendah, kalau tidak ada pohon dan tanaman maka dampaknya sangat besat.

"Kapuas hulu itu, 53 persen daerahnya paru-paru dunia dan ditumbuhi kratom. Apabila dimusnahkan kratom sebanyak 20 juta pohon pasti akan heboh."

"Ke depan usulan kita minta Balai POM untuk terus melakukan penelitian secara Farmasi dan Kemenkes juga seperti itu," pintanya.

Sisi lain, menurut Midji orang mengkonsumsi kratom tidak berhalusinasi seperti orang mengkonsumsi ganja.

Kratom cenderung untuk pengobatan.

"Saya juga meminta masyarakat jangan lagi menanam, nanti kalau dilarangkan kasihan. Udahlah kelola yang ada saja dan menubggu keputusan pemerintah secara resminya."

"Jangan lagi etiap hari membahas kratom, dahlah, kerje ja bagaimane carenye meningkatkan ekonomi," sebutnya.

Ia ykin Moeldoko menyampaikan secara komprehensip karena, Meoldoko dinilainya pasti akan mengakomodir semua kepentingan.

"Saya usulkan, pertama tata niaga kratom, kedua penelitian dengan skala farmasi dan ketiga pikirkan kalau itu dilarang dan harus ditebang dengan 20 jutaan pohon maka dampak ekologinya harus dipikirkan," tambah Midji.

Keempat adalah harus dicarikan olusi untuk masyarakat yang ketergantungan ekonominya terhadap kratom yaitu 120 ribu orang di Kapuas Hulu.

"Saya sampaika itu saja, bukan mengambil keputusan dalam pertemuan itu, tapi mencari masukan-masukan yang banyak sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan," pungkasnya. (*)

Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak 

Penulis: Syahroni
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved