Mengenal Sejarah Daerah Parit Mayor Kota Pontianak, Jejak Peninggalan Kwee Hoe Toan

Dia merupakan salah seorang Tionghoa terkaya di Borneo (Konferensi Orang Tionghoa di Pontianak, 1852-53).

Mengenal Sejarah Daerah Parit Mayor Kota Pontianak, Jejak Peninggalan Kwee Hoe Toan
TRIBUN PONTIANAK / ANESH VIDUKA
Puluhan warga mengikuti perlombaan mancing ikan secara massal di sepanjang parit batas kota antara Kelurahan Parit Mayor-Kelurahan Saigon, Jl Tanjung Raya II, Pontianak Timur, Kalbar, Rabu (17/8/2016) sore. 

PONTIANAK - Satu di antara peminat sejarah kontemporer di Pontianak Syafaruddin Usman mengungkapkan sejarah adanya daerah Parit Mayor yang kini menjadi satu di antara kelurahan di Kota Pontianak.

"Asal nama parit mayor berasal dari mayor Kwee Hoe Toan," katanya, Minggu (26/01/2020).

Diterangkan dia, berdasarkan berbagai sumber, Sejak masa awal VOC, Belanda telah berhubungan dengan para penduduk Tionghoa di Hindia dengan menunjuk para opsir Tionghoa sebagai para perantara, yang dimulai dengan kapitan-kapitan Tionghoa pertama di Batavia.

Belanda juga menerapkan sistem yang sama ketika mereka tiba di Borneo Barat.

Sejarah Perayaan Lampion Menurut Sejarawan Kalbar

Orang Eropa yang mampu berbahasa Tionghoa baru tersedia dalam birokrasi pada paruh kedua abad ke 19.

Sehingga komunikasi antara orang Belanda dan orang Tionghoa sebelum masa itu dilakukan dengan bantuan para juru tulis dan penerjemah Tionghoa atau para opsir Tionghoa yang bisa berbahasa Melayu.

Salah seorang di antaranya ialah Lim A Moy, seorang penerjemah untuk Sambas, yang telah melayani pemerintah selama dua puluh tahun sebelum dipensiunkan pada 1856. (Laporan Administrasi, 1856, ANRI BW 3/12)

Di Pontianak pada abad ke 19, para opsir Tionghoa ditunjuk dan bekerja sebagai perantara antara pemerintah Hindia Timur Belanda dengan minoritas Tionghoa, seperti halnya juga di daerah Jawa.

Hanya sedikit yang diketahui tentang para opsir itu sebelum 1838 (Heidhues, 2008: 178), walaupun keberadaan mereka tidak dipungkiri.

Pada tahun itu, tiga orang kapitan Tionghoa untuk Pontianak dimasukkan dalam daftar pejabat: Hong Tjin Nie (kapitan besar atau kapthai), Lim Nie Po (kapitan tommonggong atau temenggung dalam pengertian jabatan Melayu), dan Kwee Hoe Toan (kapitan salewatan atau salawatang, maknanya tidak diketahui).

Meskipun gelar mereka tidak dijelaskan, diketahui bahwa masing-masing dari mereka bertanggung jawab atas tiga komunitas besar yaitu Teochiu, Hakka dan Hokkien.

Halaman
123
Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved