IAR Indonesia dan BKSDA Evakuasi Orang Utan Berusia 20 Tahun

‎Informasi diperoleh Orang Utan ini pertama kali dilaporkan keberadannya oleh seorang warga pada pertengahan Januari lalu karena memasuki kebunnya.

IAR Indonesia dan BKSDA Evakuasi Orang Utan Berusia 20 Tahun
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Tim medis saat periksa kesehatan orang utan yang berusia 20 tahun di dusun 4 Desa Sui Pelang, Kecamatan Matan Hilir. 

KETAPANG - Yayasan Internasional Animal Rescue (IAR) Indonesia merilis kalau beberapa waktu lalu ‎Tim gabungan IAR Indonesia dan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang kembali menyelamatkan satu orangutan jantan dewasa tidak jauh kawasan pertambangan dan illegal loging di Dusun 4 Desa Sungai pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan pada Jumat (24/1/2020) kemarin.

‎Informasi diperoleh Orang Utan ini pertama kali dilaporkan keberadannya oleh seorang warga pada pertengahan Januari lalu karena memasuki kebunnya.

Tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia menindaklanjuti laporan ini dengan melakukan verifikasi dan melakukan mitigasi dengan menggiring orangutan ini masuk kembali ke hutan.

Induk dan Anak Orang Utan Kembali Diselamatkan di Desa Sungai Awan Kiri

Hal ini di duga, lantaran kawasan hutan yang menjadi habitatnya ada sudah rusak dan terbuka akibat pertambangan emas illegal dan illegal loging, maka orangutan yang diberi nama Inap ini kembali masuk ke kebun warga untuk mencari makan.

Tim gabungan akhirnya memutuskan untuk mengevakuasi orangutan yang diperkirakan berusia lebih dari 20 tahun ini dan membawanya ke IAR Indonesia untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut sebelum dipindahkan ke hutan yang lebih baik dan aman untuk kehidupannya.

Karena orangutan ini adalah orangutan liar, tim menggunakan obat bius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun sebelum berhasil diselamatkan oleh tim gabungan IAR Indonesia dan BKSDA, warga sempat menjerat orangutan ini dengan tali sehingga menimbulkan luka lecet di tangan orangutan ini.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez meminta dan sangat berharap kepada masyarakat untuk selalu melaporkan penemuan orangutan kepada petugas terkait seperti BKSDA dan IAR Indonesia karena mencoba menangkap orangutan sendiri tanpa prosedur yang tepat bisa membahayakan manusia dan orangutan ini sendiri,” jelasnya lagi.

Dari survey lokasi, diketahui bahwa hutan yang yang ada sudah terpotong-potong oleh pembukaan lahan untuk pertambangan dan illegal logging.

Citra satelit menunjukan bahwa area hutan yang tersisa jauh lebih sempit dibandingkan lahan yang sudah terbuka.

Tidak heran orangutan ini keluar untuk mencari makan habitatnya sudah terganggu oleh berbagai kegiatan illegal ini.

Sementara ‎ Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor mengatakan untuk kesekian kali konflik satwa liar dan manusia terulang kembali dan ia pun menuturkan sudah saatnya pemerintah bersama para mitra melakukan langkah nyata.

Kebijakan menyeluruh, penyadartahuan dan solusi inovatif harus dimulai sekarang. (*)

Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Hadi Sudirmansyah
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved