Penyebab Pekerja Migran Indonesia Dideportasi Pemerintah Malaysia, Penyalahgunaan Izin

PMI asal Kalbar yang bekerja di Malaysia, paling banyak berasal dari Kabupaten Sambas. Bahkan, mencapai 40 sampai 50 persen.

Penyebab Pekerja Migran Indonesia Dideportasi Pemerintah Malaysia, Penyalahgunaan Izin
Tribunpontianak.co.id/Rivaldi Ade Musliadi
Balai Pelayanan Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Pontianak, kembali menerima 68 pekerja Migran Indonesia  (PMI) non prosedural, yang dideportasi otoritas pemerintah Malaysia. Para PMI ilegal ini tiba di Pontianak pada Kamis (23/1) sekitar pukul 22:10 WIB.  

PONTIANAK - Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Pontianak Andi Kusuma Irfandi mengatakan, saat ini pemerintah Malaysia memang tengah gencar menertibkan PMI.

Sehingga, razia besar-besaran rutin digelar di sana. 

PMI asal Kalbar yang bekerja di Malaysia, paling banyak berasal dari Kabupaten Sambas. Bahkan, mencapai 40 sampai 50 persen. 

"Sisanya nyebar. Ada yang dari Pontianak, ada dari Kubu Raya," ujarnya ditemui di Dinas Sosial Kalbar, Kamis (23/1) malam. 

Andi mengakui, PMI non prosedural yang dideportasi otoritas pemerintah Malaysia selama ini, sebagian  besar karena melakukan penyalahgunaan izin melancong. Padahal sebanarnya mau bekerja. 

Deportasi Pekerja Migran Indonesia Ilegal, Malaysia Sudah Kirim 214 PMI Kembali Tahun 2020

"Kalau seperti itu, mereka pasti tidak punya permit atau visa kerja. Sehingga kalau kedapatan saat dirazia, pasti ketangkap," ucapnya. 

Modus penggunaan paspor melancong yang digunakan PMI non prosedural bekerja di luar negeri memang sangat sulit diawasi. Sebab, setiap orang yang akan keluar negeri dengan alasan liburan, tidak boleh dicegah. Kecuali dengan kondisi tertentu. Atau ada permintaan pencekalan terkait maslah hukum.

"Oleh karena itu, kita berharap, PMI yang mau bekerja di luar negeri, harus menggunakan cara-cara yang resmi. Supaya bisa bekerja dengan aman," katanya. 

Adapun 68 PMI yang dipulangkan pada Kamis (23/1) malam terdiri dari Laki-laki berjumlah 49 orang, dan perempuan berjumlah 19 orang. 

Sementara untuk kasus di deportasi para PMI tersebut diantaranya, tidak memiliki paspor 19 orang, tidak memiliki permit 40 orang, Visa atau Permit Kadaluarsa 6  orang, kabur dari majikan karena gaji tidak dibayar sebanyak 3 orang. 

Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved