KISAH Ibu di Sintang Melahirkan di Sampan, Berangkat Subuh Menembus Dingin Lewati Riam Berbatu

Kesadaran masyarakat untuk bersalin di fasilitas kesehatan sudah sangat tinggi. Berangkat subuh menembus dingin dan lewati riam.

KISAH Ibu di Sintang Melahirkan di Sampan, Berangkat Subuh Menembus Dingin Lewati Riam Berbatu
Istimewa/dok.Veronika Tuti
Warga Desa Nanga Sakai, Kecamatan Ambalau, Sintang, melahirkan di atas sampan pada Selasa (21/1) pagi kemarin.  

"Kebetulan yang tugas di Sake perawatnya cowok, jadi dibawa ke puskesmas," ujarnya.

Dari Nanga Sakai ke Puskemas Kemangai di Pusat Kecamatan, waktu tempuhnya dua jam menggunakan sampan.

"Ibu Boni merasa mulai sakit perut pada pukul 23.00 malam," ungkap Tuti.

Turun malam hari menyusuri sungai, sangat tidak memungkinkan.

Apalagi membawa orang hamil besar. Rasa sakit perut ditahan Boni sampai pagi.

Pagi sekali, Boni dan keluarga didampingi petugas kesehatan turun dari Sakai ke Kemangai.

"Mereka berangkat subuh menembus dinginnya pagi," ungkap bidan senior ini.

Sebenarnya, sampan yang membawa Boni sudah sampai di Kemangai, bahkan tepat di dermaga Puskemas Kemangai.

Akan tetapi, Boni sudah merasa anak yang dikandungnya sudah mulai keluar.

"Tengah ambil tandu, ibu Boni lahiran," ujar Tuti.

Halaman
1234
Penulis: Agus Pujianto
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved