Forum Anak Usulkan Perda Kawasan Bebas Asap Rokok hingga Ruang Publik Ramah Anak

Anggota Forum Anak Sintang, Nindi, menjelaskan lewat forum tersebut mengajarkan anak-anak menyuarakan hak dan keinginan mereka.

TRIBUN PONTIANAK/ NINA SORAYA
Bupati Sintang Jarot Winarno bersama perwakilan forum anak Sintang dan Melawi menjadi pembicara dalam acara Diseminasi dan Penutupan Proyek EU CSO, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (14/1/2020). 

PONTIANAK - Empat tahun perjalanan program World Vision Jerman dan Wahana Visi Indonesia bersama Uni Eropa telah membantu masyarakat Kalimantan Barat.

Tercatat di 50 desa, 10 kecamatan dan 3 kabupaten melalui Program Penguatan Peran Komunitas Desa dan Organisasi Masyarakat Sipil.

Dalam kegiatan penutupan program dua anak perwakilan Forum Anak masing masing wilayah menyampaikan pencapaian dari pasca kehadiran program tersebut, di acara Diseminasi dan Penutupan Proyek EU CSO, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (14/1/2020).

Iksa Mahendra Presiden Forum Anak kabupaten Melawi menuturkan kecemasan para anak anak sekolah khususnya di Nanga Pinoh terhadap bebasnya orang dewasa merokok bahkan di kawasan sekolah. Oleh karena itu mendorong mereka untuk mengharapkan pemerintah daerah mengeluarkan perda kawasan bebas asap rokok.

"Ini hal urgent, karena kami lihat guru, staf TU merokok secara terang terangan di depan para siswa. Makanya kami sampaikan ke Pemerintah daerah harapan adanya perda kawasan bebas asap rokok," ujar Iksa.

Menurutnya setelah audiensi kedua kalinya ke Pemkab Melawi, akhirnya usulan mereka di perhatikan dan kini telah dilahirkan Perda tersebut.

Anggota Forum Anak Sintang, Nindi, menjelaskan lewat forum tersebut mengajarkan anak-anak menyuarakan hak dan keinginan mereka.

“Kita waktu itu fokus minta agar ada ruang publik ramah anak. Dulu, kita prihatin karena taman itu dijadikan tempat-temoat ngumpul lalu banyak kita temukan sampah bekas miras, ngelem. Kita khawatir ini dilihat anak-anak lain. Makanya pas perayaan Hari Anak kita sampaikan berharap ada ruang publik ramah anak,” kata Nindi.

Program ini yang menerima dana hibah Uni Eropa sebesar EUR 650.000– ditujukan untuk organisasi masyarakat sipil, kelompok kerja Kabupaten Layak Anak (KLA), forum anak, dan pemerintah daerah, untuk terlibat dalam pengawasan kebijakan di sektor kesehatan dasar dan kesejahteraan masyarakat.

Sebanyak 178 fasilitator yang tersebar di 50 desa telah dilatih dan terlibat dalam dialog dan aksi bersama pemerintah dan masyarakat.

Hasilnya, tiga kabupaten Sintang, Melawi dan Sekadau berkomitmen untuk menjadi KLA, sehingga anggaran untuk sektor kesehatan meningkat setiap tahun sesuai dengan tujuan proyek. Layanan puskesmas telah beroperasi selama 24 jam, demikian juga kualitas layanan dan fasilitas telah meningkat di 40 posyandu dan puskesmas.

Penulis: Nina Soraya
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved