Tinggalkan Jabatan, Pengamat: Kader Parpol Harus Berani Ambil Risiko Politik

Maju tidaknya merupakan pilihan dan hak mereka, jadi tidak bisa juga dipaksakan jika memang tidak berkenan.

Tinggalkan Jabatan, Pengamat: Kader Parpol Harus Berani Ambil Risiko Politik
NET
Pengamat Politik dan Pemerintahan, Ab Tangdililing 

PONTIANAK - Pengamat Politik Untan, AB Tangdililing menilai jika menjadi seorang kader partai politik harus berani mengambil resiko politik jika disuruh untuk maju dalam sebuah kontestasi.

Berikut penuturannya.

Maju tidaknya merupakan pilihan dan hak mereka, jadi tidak bisa juga dipaksakan jika memang tidak berkenan.

Tapi walaupun begitu, semestinya mereka tidak menghindar kalau memang mereka punya potensi dan itulah makna yang mungkin paling dalam dari seorang kader, bahwa harus siap sedia manakala ditugaskan partai untuk maju dalam pilkada ataupun jabatan lain.

Jadi tidak perlu harus ketakutan akan kehilangan jabatan.

Nasdem Kalbar Sodorkan Tiga Nama Bakal Cabup di Tiga Kabupaten ke DPP, Ini Orangnya

Memang akan mengundurkan diri jika maju pilkada, tapikan itu sebuah resiko berpolitik, jadi semua harus diterima, kemenangan dan kekalahan diterima dengan lapang dada.

Memang menjadi terpilih di pilkada semacam teka-teki, ada keragu-raguan, tetapi semuanya harus dihilangkan dari seorang politikus, semua dihadapi apapun ya harus dihadapi, tidak boleh kemudian mengatakan kehilangan pekerjaan atau pendapatan meskipun memang semua orang berpikir juga jika nanti tidak terpilih semua jadi hilang.

Mungkin karena banyak kader partai yang enggan maju, maka ditawarkan pada ASN, namun juga tidak segampang yang dipikirkan karena mesti mengundurkan diri, jadi sama saja dengan kader partai yang punya jabatan, mestinya ASN juga mikir-mikir dulu.

Tapi semua itu adalah pilihan bagi individu atau warga masyarakat, terlepas resiko yang dihadapi.

Mesti Mengundurkan Diri dari DPRD, Rizal Akui Kader Gerindra Tak Siap Maju Pilkada

Karena memang juga untuk di Pilkada memerlukan biaya yang besar, terlepas dari adanya money politik, sehingga tentu partai melirik orang yang punya duit, dan tentu yang punya potensi.

Saya kira partai-partai harus cermat untuk memilih kader atau diluar kader yang memang potensial, dalam artian kemampuan dan wawasannya sehingga kedepan pemimpin dapat menaungi, memimpin dan supaya masyarakat sadar secara politik serta demokrasi di Indonesia bisa lebih maju. 

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved