Breaking News:

Tanggapan Pengamat Ekonomi dengan Adanya Ruang VVIP Pemprov Kalbar di Bandara Supadio

Ia mengatakan ke depan tentu dipikirkan dalam hitungan bisnis bagaimana manfaat atau berapa perolehan dari gedung itu secara keseluruhan.

TRIBUN PONTIANAK/NINA SORAYA
Ali Nasrun, Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura (Untan) 

PONTIANAK - Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura, Ali Nasrun menanggapi adanya Gedung Very Very Important Person (VVIP) Provinsi Kalbar di Bandara Internasional Supadio Kubu Raya yang baru saja diresmikan, Selasa (31/12/2019).

Ia mengatakan ke depan tentu dipikirkan dalam hitungan bisnis bagaimana manfaat atau berapa perolehan dari gedung itu secara keseluruhan.

Biasanya ada batas tahun misalnya 20 tahun.

Kalau tidak bisa mengembalikan modal berarti secara bisnis bisa dikatakan rugi.

Gedung VVIP Pemprov Kalbar di Bandara Supadio Telan Dana Pembangunan Rp 29 Miliar

"Saya belum tau detail bagaimana bangunan itu dan untuk apa saja. Sehingga secara bisnis apakah menguntungkan dan seharusnya itu sudah melewati kajian mendalam karena bukan hal baru dan bangunan ini juga ada di ruang VVIP di Bandara," ujarnya kepada Tribun Pontianak, Rabu (1/1/2020).

Ia mengatakan sejauh ini yang ia ketahui bahwa ruang VVIP terbagi atas dua untuk pejabat pemerintah dan untuk orang sipil yang mau menggunakannya.

Dilihat dari penyelesaian pembangunan yang menghabiskan waktu selama 7 tahun bahwasanya terkait hal itu ia tidak tahu sumbernya dan jumlah ketersediaan dana berapa dan tidak bisa selesai dalam satu atau dua tahun itu bisa juga penyebabnya bisa lama.

"Dalam kondisi sekarang ruang VVIP di bandara itu apakah bersumber dari pendapatan mereka sendiri atau dari pinjaman atau pihak ketiga."

"Kita tidak bisa memaksa untuk pembangunan selesai dalam waktu beberapa tahun jika tidak ada dana yang diperuntukan untuk itu," jelasnya.

Dari pihak pemerintah yang menjadi urusan pemerintahan atau untuk sipil yabg terbagi dua ruang VVIP ini ia katakan memang ada kebutuhan untuk hal itu

"Cuma berapa besarnya memang bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Jangan sampai sudah dibangun tidak ada yang menggunakannya karena ini juga bisnis bukan hanya sekesar fasilitas saja."

"Kalau secara bisnis itu menguntungkan berarti itu benar. Kalau itu di perlukan di Bandara iya, cuma seberapa besar dan isinya gimana tidak bisa di duga," pungkasnya. (*)

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Anggita Putri
Editor: Maudy Asri Gita Utami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved