Breaking News:

Suara Kepala Daerah dan Kasek di Kalbar Terkait Penghapusan Ujian Nasional, Karolin Beri Masukan

Meski demikian, harapannya sistem baru harus dipersiapkan dengan baik dan disosialisasikan terlebih dahulu.

Penulis: Alfon Pardosi | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ RIVALDI ADE MUSLIADI
Sebanyak 221 siswa SMA Karya Sekadau mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tingkat SMA yang mulai dilaksanakan, Senin (1/4). Di SMA Karya Sekadau, pelaksanaan UNBK dibagi menjadi dua sesi dengan menggunakan empat laboratorium komputer. 

Meski begitu, ia menyebut banyak hal positif yang didapat dalam pelaksanaan Ujian Nasional bagi para siswa tersebut.

"Kalau menurut apa yang saya alami selama 17 tahun sebagai Kepsek banyak sekali hal positif dan hikmah dari UN. Yang paling utama bisa menekan supaya para siswa lebih giat belajar karena masalah kelulusan ditentukan berdasarkan ketentuan dalam UN," jelasnya.

Sementara untuk permasalahan ataupun kendala yang dialami pihak sekolah selama ini, Sekiwa menuturkan minimnya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah-sekolah yang berada di daerah pedalaman.

Meski begitu Kepsek SMPN 5 Belitang Hulu itu menyebut dalam persiapan menuju Ujian Nasional tahun 2020, sama halnya dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, maka mulai awal semester ke-2 nanti. Bulan Februari dan Maret, kami akan laksanakan belajar tambahan. Seperti les untuk 4 mapel yang di UN kan," ujarnya.

Kepala SMAN 2 Selakau Musa Zainuddin juga mendukung wacana dari Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim yang ingin menghapus UN bagi siswa-siswi di Indonesia.

"Saya selaku kepala sekolah di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Sambas, dengan keluarnya wacana dari Kemendikbud RI. Bapak Nadiem Makarim yang akan mengahapus UN, saya sangat setuju sekali," ujarnya, Rabu.

Setidaknya ada beberapa alasan mengapa ia selaku kepala sekolah setuju dengan wacana tersebut.

"Pertama UN selama ini di laksanakan hanya sebagai pemetaan. Dan kedua biaya yang di keluarkan pemerintah pusat, daerah dan sekolah cukup besar. Biaya yang di keluarkan cukup besar namun hasilnya kurang maksimal," katanya.

Selanjutnya, ia meminta agar ada alternatif lain sebagai pengganti UN yang nantinya bisa digunakan sebagai penentu kemampuan sekolah.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved