Kepala Sekolah Ditusuk

TERUNGKAP! Kronologi Kepala Sekolah Tewas Ditusuk, Motif Tersangka hingga Pembunuhan Berencana

Pihak kepolisian menemukan fakta baru dari rekonstruksi tersebut dengan mendalami pasal pembunuhan berencana.

TERUNGKAP! Kronologi Kepala Sekolah Tewas Ditusuk, Motif Tersangka hingga Pembunuhan Berencana
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/AGUS PUJIANTO
Kasat Reskrim Polres Sintang, AKP Indra Asriyanto memimpin jalannya rekonstruksi pembunuhan kepsek SDN 24 Mensiap Baru, Kecamatan Tempunak di Mapolres SIntang.  

Agung mengungkapkan, jauh sebelum peristiwa penusukan terjadi, antara keluarga dan pelaku memang berkonflik.

Hanya saja, kata Agung, sang ayah tak ada sangkut pautnya.

“Memang ada konflik keluarga, tapi bukan bapak yang punya masalah sebenarnya,” ungkapnya.

Agung sama sekali tak menduga, konflik keluarga yang seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan itu justru merenggut nyawa ayahnya.

“Coba kalau memang tidak suka sama bapak, kita bisa rembukan. Kenapa harus seperti ini,” sesalnya.

Rasa kesal dan kehilangan tak bisa ditutupi Agung.

Anak pertama dari tiga saudara ini berusaha tegar menghadapi musibah yang menimpa ayahnya tersebut.

Matanya memerah menahan air mata kehilangan sosok ayah yang tewas dengan cara dibunuh.

Cukup lama Agung melihat lekat-lekat sosok ayahnya yang terbaring kaku di ruang pemulasaran jenazah yang ditutup sehelai jarik.

Sesekali, ia menghindar dari kerumunan warga dan menyandar di dinding untuk menenangkan diri.

“Saya minta pokoknya (pelaku-Red) dihukum seberat-beratnya,” kata Agung.

Kapolsek Tempunak Iptu Mulyo Wibowo menjelaskan, Sukimin tewas ditusuk oleh saudaranya saat akan berangkat mengajar ke sekolah.

"Pelaku masih ada hubungan keluarga dengan korban," kata Iptu Mulyo.

Penusukan terjadi di Desa Mensiap Baru sekitar pukul 07.00 WIB.

Pagi itu, korban hendak berangkat ke sekolah. Tiba-tiba dihentikan pelaku dan terjadi cekcok.

"Pelaku langsung menusuk korban ke bagian perut," kata Mulyo.

Dugaan sementara, tindak pidana penusukan hingga menyebabkan korban meninggal dunia karena pelaku kesal dengan korban lantaran sering membela istri pelaku.

"Motif pelaku diduga kesal karena korban sering membela istrinya (keponakan korban-Red) ketika bertengkar. Pelaku diketahui sering bertengkar dengan istrinya," ungkap Kapolsek.

Iptu Mulyo mengatakan, korban tewas di lokasi kejadian. Sementara FS diamankan warga setempat.

“Saat kami tiba di lokasi, pelaku sudah diamankan warga," kata Kapolsek Tempunak.

Kapolsek menyatakan, informasi penusukan diterima anggota Polsek Tempunak sekira pukul 08.00.

Jarak dari Mapolsek ke lokasi kejadian sekitar 2 jam perjalanan.

"Kondisi sudah meninggal. Saat kami tiba, korban ditutup kain. Sementara pelaku sudah diamankan warga," ungkap Mulyo.

Dari foto foto yang beredar, terduga pelaku penusuk Kasek diikat dengan tali oleh warga.

"Kondisi pelaku belum bonyok. Cuma diikat oleh warga," kata Kapolsek.

Iptu Mulyo menyebut, secara kasat mata korban menderita delapan luka tusukan di bagian perut.

“Visum secara resmi belum keluar. Tapi secara kasat mata ada delapan luka,” katanya.

Kapolsek menyatakan, ada dugaan FS sudah mengincar korbannya.

“Nampaknya direncanakan, karena pelaku sudah menyiapkan pisau,” ungkapnya.

Kapolres Sintang AKBP Adhe Hariadi memastikan saat ini pelaku sudah berada di Mapolres Sintang untuk diperiksa.

"Sudah di Polres. Sedang diperiksa," jelas Kapolres.

Kasat Reskrim Polres Sintang AKP Indra Asriyanto menjelaskan, dari pemeriksaan awal diketahui dugaan sementara kejadian ini berawal dari sakit hati pelaku terhadap korban yang mencampuri urusan rumah tangganya.

“Terduga pelaku merasa sakit hati. Pelaku merasa tidak senang karena korban mencampuri urusan rumah tangganya,” kata Kasat Reskrim Polres Sintang, AKP Indra Asriyanto ditemui di ruang kerjanya.

Terduga pelaku berinisial FS merupakan warga Desa Mensiap Baru, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang.

FS menikah siri dengan keponakan korban. Lambat laun, rumah tangga mereka bubar lantaran FS masih memiliki anak dan istri sah di Jawa.

“Setahun menikah, tahun 2018 terjadi selisih paham, cekcok rumah tangga, dalam proses perselisihan korban ikut campur. Korban merupakan paman istri tersangka. Pelaku merasa tidak senang, sakit hati karena pamannya ikut campur. Intinya masalah rumah tangga ini. Pelaku mempunyai istri sah dan anak di Jawa. Setelah ketahuan keluarga di Sintang, terjadi percekcokan,” beber Indra.

Setahun menjalani rumah tangga bersama istri sirinya, FS pisah.

Pihak keluarga istri siri menuntut agar FS menceraikan istri sahnya yang berada di Jawa dan diminta fokus menghidupi istri sirinya.

“Pelaku didesak agar segera menceraikan bahkan dengan dipaksa untuk membuat surat pernyataan sebagai jaminan bahwasanya dia memang mau menceraikan, dan memperhatikan keluarga di sini (Sintang),” ungkap Indra.

Sakit hati FS terhadap korban sejak setahun terakhir dipendam lantaran dianggap sering ikut campur urusan urusan keponakannya.

“Pelaku menyimpan dendam setahun terakhir. Korban selalu ikut campur. Setelah cekcok, pelaku tinggal di tempat lain (pisah dengan istri siri),” kata Indra.

Pada Kamis pagi, terduga pelaku sekitar pukul 06.30 lantas mencegat korban saat hendak pergi ke sekolah menggunakan sepeda motor.

Tepat di depan gereja, terjadi adu mulut antar keduanya.

“Pada saat itu korban lewat dengan sepeda motor, dicegat kemudian berbincang. Rupanya terjadi cekcok mulut, kemdian pelaku secara spontan mencabut pisau dari pinggang yang memang sudah disiapkan sebelumnya, kemudian langsung menusuk sebanyak dua kali, di depan dan samping,” ujar Indra. (*)

Penulis: Agus Pujianto
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved