Hidup di Tanah Perbatasan, Masyarakat Desa Nanga Bayan Terisolir di Negeri Sendiri

Desa yang terdiri dari 3 Dusun yakni Dusun Keburau, Dusun Lubuk Ara dan Dusun Blubu ini memiliki 1165 jiwa.

Hidup di Tanah Perbatasan, Masyarakat Desa Nanga Bayan Terisolir di Negeri Sendiri
TRIBUNPONTIANAK/MARPINA SINDIKA WULANDARI
Kondisi jalan paralel menuju Desa Nanga Bayan Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang, Minggu (17/11/2019). 

SINTANG- Hidup di tanah perbatasan negara, masyarakat Desa Nanga Bayan seolah terisolir di negeri sendiri.

Hal inilah yang cocok diungkapkan ketika melihat kondisi yang dialami masyarakat Desa Nanga Bayan, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang.

Desa yang terdiri dari 3 Dusun yakni Dusun Keburau, Dusun Lubuk Ara dan Dusun Blubu ini memiliki 1165 jiwa.

Dengan pontensi alam yang menakjubkan dan keasrian hutan yang masih terjaga.

Bupati Rupinus Terus Galakkan Perbaikan Jalan, Tembus Hingga Perbatasan Sekadau-Sintang

Masyakat Desa Nanga Bayan berharap Pemerintah Pusat memperhatikan kondisi infrastruktur yang ada di wilayah tersebut.

Diketahui dari Dusun Blubu menuju ibukota Kabupaten Sintang memakan waktu lebih dari 6 jam.

Dengan kondisi jalanan seperti kubangan lumpur ketika hujan dan penuh debu ketika panas terik.

"Kami di sini sangat berharap Pemerintah Pusat untuk memperhatikan kami. Dimana Kami di sini terkenal untuk masalah infrastruktur."

"Memang saat ini sudah di mulai, infrastruktur perbatasan berupa jalan paralel. Tetapi desa kami sangat terpencil karena tidak dilewati jalan paralel," ujar Kepala Desa Nanga Bayan, Runa, Minggu (17/11/2019)

Runa menyebut untuk hasil perkebunan masyarakat lebih sering menjual ke negara tetangga, yakni Malaysia dan ke Balai Karangan.

Halaman
1234
Penulis: Marpina Sindika Wulandari
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved