HIMAP Untan Gelar Seminar Nasional Sebagai Perhatian Mahasiswa Terhadap Tata Ruang Hutan dan Lahan

Kegiatan ini dimulai dengan ditampilkannya tarian 3 etnis yang melambangkan suku di Kalbar yang meliputi Tionghoa, Melayu dan Dayak.

HIMAP Untan Gelar Seminar Nasional Sebagai Perhatian Mahasiswa Terhadap Tata Ruang Hutan dan Lahan
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Gubernur Kalimantan Barat, H.Sutarmidji menyampaikan arahannya saat acara Focus Group Discussion (FGD) tentang tanaman kratom bersama Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Heru Winarko, Bupati/Wali Kota dan Forkopimda Kalbar di hotel Mercure, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (5/11/2019). BNN menyatakan bahwa kratom termasuk narkotika golongan 1 yang dilarang untuk digunakan dalam suplemen makanan dan obat tradisional. 

PONTIANAK - Memperingatai Hari Tata Ruang (HATARU) Tahun 2019 yang jatuh setiap tanggal 8 November, Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Tanjungpura (HIMAP UNTAN) menggelar Seminar Nasional dengan tema "Strategi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Barat" di Pendopo Gubernur Kalbar, Sabtu (16/11).

Kegiatan ini dimulai dengan ditampilkannya tarian 3 etnis yang melambangkan suku di Kalbar yang meliputi Tionghoa, Melayu dan Dayak.

Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Sutarmidji, dan didampingi oleh Ketua Panitia, Ketua Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (HIMAP), Wakil Rektor 1 Untan, dan Perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dibunyikannya gong 3 kali secara simbolis sebagai tanda dibukanya Seminar Nasional Hari Tata Ruang Tahun 2019.

Gubernur Kalimantan Barat mengapresiasi dengan adanya kegiatan ini sebagai bentuk perhatian mahasiswa terhadap tata ruang hutan dan lahan.

Ia mengatakan bahwa kurangnya ketegasan dalan kebijakan dan sosialisasi kepada masyarakat menjadikan masalah ini terus berulang.

"Tidak adanya kebijakan yang tegas dan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai Karhutla membuat masalah ini tidak akan selesai," jelasnya.

Himapol Indonesia Korwil 3 Desak Anggota DPRD Kalbar Terpilih Kerja Maksimal

IVS Kalbar Edukasi Masyarakat Lewat Seminar Terkait Pola Makan Sehat dan Rahasia Didik Anak

Indonesia Vegetarian Society Kalbar Gelar Seminar Seminar dan Expo 108 Makanan Vegan

Hafiz Auliandri, selaku ketua panitia Hari Tata Ruang Tahun 2019 berharap kegiatan ini dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang Karhutla.

"Latar belakang diambilnya tema 'Strategi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimanatan Barat' ini karena besarnya kerugian masyarakat dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dengan adanya kegiatan ini memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang mengatasi Karhutla dan mengajak masyarakat berpartisipasi dalam mencegah Karhutla," katanya.

Seminar Nasional Hari Tata Ruang Tahun 2019 ini diisi dengan penyampaian materi dari Erika Mardiyanti selaku Kepala Stasiun BMKG Supadio, Nadori selaku Ketua Kelompok Tani Sungai Asam, dan Aminingrum selaku Kepala Seksi Mitigasi Bencana Non Struktur BNPB Pusat.

Dalam penyampaian materinya, Erika Mardiyanti menjelaskan mengenai hotspot di Kalimantan Barat, karakteristik iklim di Kalimantan Barat, kondisi saat ini, prakiraan cuaca, dan analisis prediksi enso. Peran BMKG sebagai pemberi informasi publik mengenai adanya peringatan dini dari cuaca, iklim ataupun gelombang melalui data yang ada.

Penyampaian materi kedua dari Nadori membahas mengenai fakta kebakatan hutan dan lahan di lapangan, dampak yang dirasakan masyarakat, dan kesadaran masyarakat terhadap hukum mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

"Awal mula pembakaran lahan di desa karena ketidaktahuan masyarakat mengenai dampak dari adanya kebakaran lahan ini. Dengan adanya hukum yang dibuat mengikat masyarakat dapat meminimalisir adanya kebakaran hutan dan lahan," tuturnya.

Penyampaian materi ketiga dari Aminingrum M.A menjelaskan mengenai dampak karhutla, luas areal karhutla, penyebab karhutla, upaya pengendalian karhutla, ancaman dan solusi permanen, dan tantangan pencegahan karhutbunla.

"Adanya 3 Dimensi Grand Design karhutbunla ialah pencegahan, Penanggulangan, dan pemulihan serta 5 strategi utama ialah permanen, lintas sektor, terpadu, kompehensid, cepat dan responsif, dan tepat sasaran," pungkasnya.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Anggita Putri
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved