Gelar Penyuluhan Bahasa, Balai Bahasa Kalbar Miris Lihat Penggunaan Bahasa Pada Ruang Publik

"Kalau kita sudah tidak ada lagi rasa bangga itu, berarti kita sudah krisis, jati diri, idemtitas kebangsaan kita sudah tidak ada lagi," tuturmya.

Gelar Penyuluhan Bahasa, Balai Bahasa Kalbar Miris Lihat Penggunaan Bahasa Pada Ruang Publik
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MUZAMMILUL ABRORI
Dedy Ari Asfar saat menyampaikan materi penyuluhan bahasa Indonesia, di Kantor Wali Kota Pontianak, pada Jumat (15/11) 

PONTIANAK - Saat ini sangat miris sekali melihat penggunaan bahasa Indonesia pada ruang publik.

Hal itu dikatakan Dedy Ari Asfar, saat menjadi pemateri diacara Penyuluhan Bahasa Indonesia, yang digelar oleh Balai Bahasa Kalimantan Barat bersama Pemerintah kota Pontianak, di Kantor Wali Kota Pontianak, pada Jumat (15/11).

Penyuluhan bahasa Indonesia ini diberikan kepada seluruh lapisan pejabat pemerintah kota Pontianak, guna membahas penggunaan bahasa Indonesia pada naskah Dinas, dan ruang publik.

"Kita membahas bagimana penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak hanya pada naskah dinas, kita juga membahas penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik," ungkapnya kepada Tribun.

Balai Bahasa Kalbar Gelar Penyuluhan Bahasa Indonesia dalam Penulisan Surat Dinas Pemerintahan.

BNNK Mempawah Lakukan Penyuluhan Narkotika di Kalangan ASN Kabupaten Mempawah

BNN Beri Penyuluhan Bahaya Narkoba di Perusahaan Sawit

Menurutnya, saat ini melihat penggunaan bahasa Indonesia pada ruang publik sangat miris sekali, sebabnya masih banyak yang menggunakan bahasa asing dibanding dengan bahasa Indonesia.

"Padahal kita sudah ada Undang-undang kan, sama UU nomor 24 tahun 2009 tentany bahasa, tanda pusaka, dan lagu kebangsaan itu. Dan didalam undang-undang tersebut itu wajib masyarakat menggunakan bahasa Indonesia, dan apalagi di ruang publik, termasuk pada kain rentang, spanduk, papan nama dan lain sebagainya," jelasnya.

Karena dikatakannya, disitulah letak bagaimana kita menunjukkan sikap bangga dan positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap kita bahwa kita ingin memartabatkan bahasa negara diruang publik.

"Kalau kita sudah tidak ada lagi rasa bangga itu, berarti kita sudah krisis, jati diri, idemtitas kebangsaan kita sudah tidak ada lagi," tuturmya.

Dalam kesempatan itupun, ia berpesan kepada masyarakat bahwa ingatlah perjuangan para pendiri bangsa, berjuang dengan darah dan air mata, hanya untuk mengatakan 'Bertanah satu tanah air indonesia, berbangsa satu bangsa indonesia, dan menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan'.

"Menjunjung lah bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan itu, caranya apa? Ya gunakan bahasa Indonesia di ruang publik itu dengan benar, apalagi sampai tidak menggunakan bahasa Indonesia," pungkasnya.

Penulis: Muzammilul Abrori
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved