Motif Pria 63 Tahun Tebas Leher Keluarganya hingga Tewas, Cekcok Berujung Maut di Acara Adat

Bernardinus Bonos (63) pelaku pembunuhan dengan cara menebas leher terhadap korban, Herkulanus Deo (44) yang diketahui merupakan keluarganya.

Motif Pria 63 Tahun Tebas Leher Keluarganya hingga Tewas, Cekcok Berujung Maut di Acara Adat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Nur Imam Satria
Bernardinus Bonos (63) pelaku pembunuhan dengan cara menebas leher terhadap korban, Herkulanus Deo (44) yang diketahui merupakan keluarganya sendiri mengaku menyesal saat ditemui di Mapolres Ketapang. 

Motif Pria 63 Tahun Tebas Leher Keluarganya hingga Tewas, Cekcok Berujung Maut di Acara Adat

Bernardinus Bonos (63) pelaku pembunuhan dengan cara menebas leher terhadap korban, Herkulanus Deo (44) yang diketahui merupakan keluarganya sendiri mengaku menyesal dan sempat menangis setelah sadar atas apa yang dilakukannya.

Ia pun mengaku khilaf atas apa yang dilakukannya karena pada saat kejadian dirinya dalam keadaan kondisi mabuk dan terpancing emosi karena korban memukulnya tanpa sebab.

Saat ditemui di Mapolres Ketapang, Jumat (01/11/2019) tersangka mengaku kalau kejadian tersebut bermula ketika dirinya menghadiri acara di rumah keluarganya yang meninggal dunia di Dusun Kaliampu, Desa Batu Beransah, Kecamatan Tumbang Titi, Rabu (30/10/2019).

"Saat itu saya ikut datang dan membantu menghidangkan makanan diacara adat keluarga yang meninggal. Korban juga ada dilokasi, korban bermain gendang," tuturnya.

Usai membantu menyajikan makanan, dirinya terkejut ketika korban membentak dirinya, dan kemudian memukul dirinya menggunakan kelinang atau alat untuk bergendang yang terbuat dari kuningan tembaga.

"Saat itu sontak saya juga membalasnya. Sempat terjadi perkelahian sebelum di pisahkan warga. Kemudian saya pulang kerumah sambil bertanya-tanya salah saya apa kenapa dipukul tanpa sebab apalagi sebelumnya tidak ada masalah saya dengan korban," akunya.

Sesampainya dirumah, anaknya kemudian melihat wajahnya bercucuran darah dan bertanya kenapa wajahnya berdarah. Ia pun langsung memeriksa wajahnya yang ternyata sudah bercucuran darah.

"Awalnya saya tidak sadar pelipis mata saya berdarah karena saya dalam keadaan mabuk. Mengetahui itu emosi saya naik, saya cari parang dan akan mendatangi korban lagi, namun istri dan anak saya melarang dan mengambil parang tersebut kemudian di sembunyikan," jelasnya.

Saat itu, dirinya sedikit tenang dan berbaring, sedangkan istri dan anaknya pergi ke lokasi kejadian, namun selang beberapa menit dirinya kemudian bangun dan mencari parang yang disembunyikan oleh istrinya.

Halaman
1234
Penulis: Nur Imam Satria
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved