Robo Robo Desa Kakap Pertahankan Tradisi Menolak Bala
Perhelatan pekan budaya robo-robo di Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Rabu (23/10), dihadiri langsung Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan.
Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Didit Widodo
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Septi Dwisabrina
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Setiap Rabu akhir Safar Hijriah, masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar robo-robo. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pusat pelaksanaan robo-robo berada di Kuala Mempawah serta Desa Sungai Kakap dan Desa Punggur Kecil Kubu Raya.
Perhelatan pekan budaya robo-robo di Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Rabu (23/10), dihadiri langsung Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan. Festival ini digelar guna melestarikan budaya setempat yang dipercaya sebagai tolak bala agar terhindar dari bencana.
Acara di mulai dengan pembacaan syair tentang robo-robo. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan tarian multi etnis Kubu Raya.
Perhelatan festival ini, dibuka secara langsung Bupati Muda Mahendrawan serta dihadiri dari berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Organisasi Perangkat Daerah (OPD)di Kubu Raya.
Dikatakan bupati, dalam pekan raya robo-robo ini dimaknai sebagai momen titik kumpul untuk saling menjalin kebersamaan. "Saling memberi, saling mendekatkan diri untuk senantiasa mendoakan agar terhindar dari bala," ujar Muda.
Menurutnya, robo-robo sebagai budaya dan memiliki nilai-nilai tradisi kental di suatu daerah yang dikenal sebagai tolak bala.
Baca: Meriahkan HUT ke 248 Kota Pontianak, PNM Gelar Pameran UMKM
Baca: Ubah Image Pasar Tradisional, Adira Finance Gelar Festival Pasar Rakyat Pontianak

Selain itu, Muda menyatakan jika budaya robo-robo'ini merupakan wisata andalan yang berkembang di Kubu Raya.
Selain itu, robo-robo sebagai tolak bala diselenggarakan secara terpisah, tidak mengurangi esensi guna melestarikan budaya di Kubu Raya.
"Di Kubu, Teluk Pakedai, Sungai Raya dan lainnya juga mengadakan robo-robo karena budayanya sama, tidak ada yabg berbeda," ungkapnya.
Menurutnya, pelaksanaan robo-robo di Kubu Raya secara terpisah merupakan wujud aktualisasi dan ekspresi dari masyarakat yang telah mengakar sedari dulu.
"Mereka menganggap ini sebagai doa untuk keselamatan dan senantiasa bersilaturrahmi serta membahagiakan satu sama lain," terangnya.
Selain itu, momen budaya ini juga mewujudkan toleransi antar sesama umat manusia. Hal ini terlihat semua etnis dan agama menyatu serta membaur menjadi satu menyukseskan pekan budaya robo-robo di Sungai Kakap.
"Harus terus di jaga. Secara tidak langsung ini sebagai wujud menghargai tradisi masing-masing," imbuhnya.
Pemuka agama setempat, Serakah mengatakan robo-robo merupakan tradisi di bulan safar. Sejak zaman dahulu telah melaksanakan ritual tolak bala agar terhindar dari bencana.