Tahun 2020, BMKG: Tidak Ada Indikasi El-Nino Kuat

Demikian juga, NOAA dan NASA (Amerika) serta JAMSTEC (Jepang) memprediksi hasil yang serupa.

Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Jamadin
BMKG
Peringatan Dini BMKG untuk 2 Wilayah di Kalbar & Prakiraan Cuaca Kalbar Kamis 4 April 2019 

Tahun 2020, BMKG: Tidak Ada Indikasi El-Nino Kuat

PONTIANAK - Berdasarkan hasil monitoring dan analisa dinamika atmosfer, BMKG memprediksi bahwa pada tahun 2020 tidak terindikasi akan terjadi El- Nino kuat, sebagaimana yg disampaikan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.

Demikian juga, NOAA dan NASA (Amerika) serta JAMSTEC (Jepang) memprediksi hasil yang serupa.

Hal ini menandai tahun 2020 nanti diperkirakan tidak ada potensi anomali iklim yang berdampak pada curah hujan di wilayah Indonesia.

Curah hujan akan cenderung sama dengan pola iklim normal (klimatologisnya).

"Musim kemarau umumnya akan dimulai pada bulan April - Mei hingga Oktober 2020. Sedangkan wilayah di dekat ekuator, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau, musim kemarau pertama akan dimulai pada Februari - Maret 2020, sehingga tetap perlu diwaspadai untuk potensi kondisi kering, yang dapat berdampak karhutla di awal tahun pada wilayah dekat ekuator tersebut," ujar Dwikorita Karnawati.

Baca: Ucapkan Selamat HUT Kota Pontianak, Ini Harapan Gubernur Sutarmidji

Baca: VIDEO: Tanggapan Ketua Sementara DPRD Kabupaten Sambas Terkait Pelantikan

Untuk tahun 2019 saat ini, Dwikorita menambahkan, El - Nino lemah telah berakhir pada bulan Juli lalu, dan kondisi netral ini masih berlanjut hingga di penghujung tahun 2019.

Fenomena yang saat ini sedang terjadi, lanjut Dwikorita, adalah rendahnya suhu permukaan laut daripada suhu normalnya yg berkisar antara 26 - 27 derajat celcius di wilayah perairan Indonesia bagian selatan dan barat, sehingga berimplikasi pada kurangnya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

“Dengan adanya fenomena tersebut, mengakibatkan awal musim hujan periode 2019/2020 mengalami kemuduran, dan sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan pada bulan November, kecuali untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan yang dimulai sejak pertengahan Oktober 2019,” paparnya.

Dwikorita mengimbau agar perlu mengoptimalkan *usaha "menjaga cadangan air”* melalui optimalisasi manajemen operasional air waduk saat musim penghujan dan melalui gerakan memanen air hujan.

Teknologi Modifikasi Cuaca dapat diterapkan sebagai alternatif pada saat peralihan kedua musim tersebut, terutama bagi wilayah yang rawan kekeringan dan karhutla.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved