Kepala Sekolah Ditusuk

Penusukan Kepala Sekolah Hingga Meninggal Dunia, Masalah Rumah Tangga Jadi Pemicu

Dugaan sementara, kejadian ini berawal dari sakit hati pelaku terhadap korban yang mencampuri urusan rumah tangganya.

Penusukan Kepala Sekolah Hingga Meninggal Dunia, Masalah Rumah Tangga Jadi Pemicu
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/AGUS PUJIANTO
FS terduga pelaku pembunuh kepsek sudah diamankan Satreskrim Polres Sintang beserta barang bukti pisau dapur.  

Penusukan Kepala Sekolah Hingga Meninggal Dunia, Masalah Rumah Tangga Jadi Pemicu

SINTANG - Nyawa Sukimin, Kepala Sekolah SD 24 di Desa Mensiap Baru, Kecamatan Tempunak melayang ditangan FS yang tidak lain adalah keluarganya setelah ditusuk menggunakan pisau dapur, Kamis (17/10).

Dugaan sementara, kejadian ini berawal dari sakit hati pelaku terhadap korban yang mencampuri urusan rumah tangganya.

“Terduga pelaku merasa sakit hati. Pelaku merasa tidak senang karena korban mencampuri urusan rumah tangganya,” kata Kasat Reskrim Polres Sintang, AKP Indra Asriyanto ditemui di ruang kerjanya.

Terduga pelaku berinisial FS merupakan warga di Desa Mensiap Baru, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang.

Pada tahun 2017, FS menikah siri dengan keponakan korban namun lambat laun rumah tangganya retak.

Baca: Sempat Diikat Warga, Polisi Pastikan Kondisi Pelaku Penusukan Kepala Sekolah di Sintang Belum Bonyok

Baca: Kepala Sekolah di Sintang Hembuskan Nafas Terakhir di Lokasi Penusukan

Baca: Kepala Sekolah Yang Jadi Korban Penusukan di Sintang Meninggal Dunia

“Setahun menikah tahun 2018 terjadi selisih paham, cekcok rumah tangga, dalam proses perselisihan korban ikut campur, korban paman istrinya. Pelaku merasa tidak senang, sakit hati karena pamannya ikut campur, bukan orangtuanya malah.  Intinya masalah rumah tangga ini si pelaku mempunyai istri sah dan anak di jawa, jadi setelah ketahuan oleh keluarga di sintang, terjadi percekcokan,” beber Indra.

Setahun menjalani rumah tangga bersama istri sirinya, FS pisah.

Pihak keluarga istri siri menuntut agar FS menceraikan istri sahnya yang berada di jawa dan diminta fokus menghidupi istri sirinya.

“Pihak keluarga (istri siri) menuntut agar pelaku segera menceraikan istrinya di jawa. Pelaku didesak agar segera menceraikan bahkan dengan dipaksa untuk membuat surat pernyataan sebagai jaminan bahwasanya dia memang mau mencertaikan, dan memperhatikan keluarga di sini (sintang),” ungkap Indra.

Halaman
12
Penulis: Agus Pujianto
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved