Terkait Penutupan Jembatan Kapuas II, Ini Komentar Pengamat Transportasi

Coba kita bayangkan, Kapuas III yang telah digencarkan dari dulu tapi sekarang ilang cerita dan tidak ada realisasi.

TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Kemacetan menuju Jembatan Kapuas I hingga ke Jalan Veteran, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (14/10/2019) siang. Selama 20 hari mendatang, Jembatan Kapuas II akan ditutup sejak pukul 12.00 hingga pukul 24.00, sehingga hanya bisa melewati akses Jembatan Kapuas I. 

Kemudian, dari arah rumah sakit Yarsi itu harus dibelokan ke Jalan Panglima Aim.  Itu harus ditata dan menutup Jembatan Kapuas II ini bukan hanya masalah tutup dan alihkan lalulintas.

Dampaknya sangat luas, dalam hal ini PUPR, Dishub, kepolisian harus berpikir keras bahkan kalau perlu kami dari pihak akademisi Untan diajak ngomong, terkait bagaimana mengantisipasi ini.

Pasalnya jalur yang ditutup itu adalah jalur uang angat padat, sehingga dampaknya luas.
Kemudian kelemahan kita infrastruktur alternatif  sangat minim dan terbatas.
Sebenarnya walaupun tak menggunakan jembatan, tapi dengan memanfaatkan angkutan fery khsusus membawa kendaraan besar dengan infrastruktur dermaga yang memadai adalah cara menyediakan infrastruktur.

Coba kita bayangkan, Kapuas III yang telah digencarkan dari dulu tapi sekarang ilang cerita dan tidak ada realisasi. 

Baca: Warga Berharap Waktu Penutupan Jembatan Kapuas II Diundur dan Disesuaikan dengan Aktifitas Sekolah

Baca: Ditutupnya Jembatan Kapuas II Berdampak Pada Kepadatan Kapuas I dan Penyeberangan Feri

Kita hanya terpaku pada dua jembatan, Kaluas I dan Kapuas II. Kapuas I bermasalah Kapuas II terbebani dan sebaliknya. Kita tidak punya alternatif pilihan.

Sebetulnya bisa dikembangkan, didaerah Sungai Durian bisa ada Jembaran. Sehingga dari bandara langsung ke daerah Desa Kapurnya.

Kemudian pengembangan ini tidak semata-mata Kota Pontianak. Tapi harus melibatkan Kubu Raya dan Provinsi Kalbar bahkan pusat.

Saat ini seakan-akan beban tanggungjawabnya hanya pada pemerintah kota, sedangkan yang menggunakan masyarakat Kalbar.

Jadi harus dibagilah, seperti terminal Sungai Durian harus ada jembatan dan dijadikan sebuah kawasan terpadu, ada fery juga dan sebagainya.

Pengembangan angkutan itu, tidak semata-mata jalan, tidak hanya semata-mata jembatan tapi harus ada alternatif lainnya seperti fery, ponton dan lainnya.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved