Dari 3,4 juta Ton Produksi Sawit, Hanya 4 Persen Saja Ekspor yang Berasal Dari Kalbar.

Hal ini menurutnya karena jumlah produksi perkebunan kepala sawit di Kalbar sangat besar namun tidak berbanding lurus dengan jumlah ekspor.

Dari 3,4 juta Ton Produksi Sawit, Hanya 4 Persen Saja Ekspor yang Berasal Dari Kalbar.
TRIBUNPONTIANAK/Tri Juliansyah
Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJCB) Kalimantan Bagian Barat menggelar Forum Group Discussion (FGD) di Hotel Ibis, Kamis (10/10/2019). 

Dari 3,4 juta Ton Produksi Sawit, Hanya 4 Persen Saja Ekspor yang Berasal Dari Kalbar.

PONTIANAK - Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJCB) Kalimantan Bagian Barat menggelar Forum Group Discussion (FGD) di Hotel Ibis, Kamis (10/10/2019).

Kegiatan yang mengangkat tema upaya peningkatan ekspor CPO dari Kalimantan barat dan Peningkatan nilai tambah ekspor bauksit dan Produk Olahannya ini mengahdirkan beberapa nara sumber dan pelaku ekspor dari Kalimantan Barat.

"Fokus kita di FGD ini memang ke bauksit dan turunannya serta ekspor dari perkebunan salah satunya sawit dari Kalimantan barat," ujar Kakanwil DJCB Kalbagbar, Azhari Rasyidi.

Baca: Pabrik Pengolahan Sawit PT Agro Andalan ke-8 Diresmikan, Kapasitas 30 Ton TBS Per Jam

Baca: Bupati Landak Berikan Benih Jagung Pada CU Pancur Kasih dan Koperasi Replanting Sawit

Hal ini menurutnya karena jumlah produksi perkebunan kepala sawit di Kalbar sangat besar namun tidak berbanding lurus dengan jumlah ekspor dari kalimantan barat.

"Dari sawit saja produksi nya 3,4 juta ton pertahun yang di ekspor dari sini hanya 4 persen saja. Memang setelah kita lihat banyak kendala juga termasuk infrastruktur, maslah energi dan lainnya," katanya.

Kemudian rendahnya nilai ekspor untuk sawit ini juga menurutnya bisa menjadi syarat untuk pemberian izin pembuakaan lahan baru.

"Tadi dari pemaparan bappeda juga ada keinginan agar tidak ada lagi atau batasan pembukaan lahan baru. Nah mungkin jika nilai ekspor bisa ditingkatkan baru bisa diberikan izin lagi, ini juga menjadi upaya memperlambat pembukaan lahan baru karena dampaknya juga tidak hanya menjadi peehatian pemerintah saja seperti dampak lingkungan," paparnya.

Kemudian dari produksi bauksit di kalbar ia juga menyoroti nilai ekspor, dimana menurutnya perhatiannya tidak hanya pada kuantitatif tetapi juga kualitatifnya.

"Sebulan kita data potensi disini sangat besar bukan secara kuantitatif tetapi kualitatif harus ada peningkatan misalnya bauksit. Selama ini ekspor konsentratnya 88 persen, turunannya masih sisanya, memang sisi penerimaan bagus karena kena bea kalau turunan tidak kena bea keluar," tuturnya.

Tapi ia mengharapkan turunannya inilah yang dikembangkan karena akan berdampak pula pada perkembangan ekonomi di Kalbar.

"Kita kehendaki yang tidak kena bea ini dikembangkan tapi harus ada produk turunannya sehingga bisa memacu perkembangan ekonomi. Memang kalau hanya tanah saja yang keluar kita layani tapi kita ingin juga ada nilai tambah dari hasil olahannya," paparnya.

Ia mengataka terkait bagian dari tugas intansi vertikal disini secara tugas dan fungsi dan moral bertanggung jawab pada kemajuan daerah. Termasuk upaya peningkatan nilai ekspor di Kalimantan Barat.

"Sesuai arahan dari ibu menteri semua kanwil koordinasi dengan pemda untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi khusus nya ekspor. Kita bea cukai siap 24 jam melayani ekspor, kita komit 7 kali 24 jam," pungkasnya. (*)

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Try Juliansyah
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved