Diduga Dampak Karhutla, Puluhan Ribu Ikan di Keramba Tepian Sungai Landak Pontianak Mati

Diduga karena dampak bencana Kabut Asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi beberapa waktu lalu, pemilik tambak ikan

Diduga Dampak Karhutla, Puluhan Ribu Ikan di Keramba Tepian Sungai Landak Pontianak Mati
TRIBUNPONTIANAK/kolase
Ikan kerambak di Sungai Landak banyak mati diduga dampak dari Karhutla 

Diduga Dampak Karhutla, Puluhan Ribu Ikan di Keramba Tepian Sungai Landak Pontianak Mati

PONTIANAK - Diduga karena dampak bencana Kabut Asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi beberapa waktu lalu, pemilik keramba ikan di tepian Sungai Landak kota Pontianak merugi hingga puluhan juta rupiah.

Mustafa, pemilik keramba Ikan yang berada di aliran sungai Landak di wilayah Kecamatan Pontianak Utara mengaku sudah merugi hingga lebih dari 30 juta rupiah dalam 2 hari akibat puluhan ribu ekor ikannya mati secara mendadak.

"Ini dari kemarin hari Selasa tanggal 8 Oktober 2019 sampai hari ini (Rabu 9/10/2019). Udah puluhan ribu yang mati, Kalau yang besarnya itu si ndak banyak sekitar 1 tonan lah, kalau bibit yang baru masuk itu, sama yang satu bulan lalu itu yang banyak itu mati. 30 ribuan itu udah abis, paling lah sisa barang itu 5 ribuan,"ungkapnya saat di temui Tribun di keramba ikan Nila nya yang berada di Gang Amal, Jalan Selat Panjang, Kecamatan Pontianak Utara, Rabu (9/10/2019).

Ia menduga salah satu faktor kematian puluhan ribu ikan nya di akibatkan oleh dampak karhutla beberapa waktu lalu, dimana asap, serta lumpur di lokasi karhutla yang mengalir diguyur hujan mencemari sungai dan membuat ikan ikannya mati.

Baca: Banyak Ikan Mati Selama Musim Kemarau, Pembudidaya Keramba di Mempawah Berpotensi Rugi Besar

Baca: Keramba Ikan Lele yang Dikelola Warga Binaan di Rutan Sanggau Hasilkan 240 Kg Ikan

Baca: Bangun Keramba Kepiting di Batu Ampar, Dede Rargetkan Produksi 30 Ton Kepiting Per Bulan

"Kalau menurut saya tu kemarin kan cuaca kemaraunya panjang, terus timbulnya lagi kebakaraan lahan, Banyak nya asap, pas di hujan timbul, hampir satu pekan ya itu yang membuat air yang bercampur sama asap terus lahan yang terbakar itu kan kena hujan dan ngalirnya kesungai, Itu yang menyebabkannya menurut saya, kalau air pasang dari laut ndak pengaruh ikannya, walau asin kayak gimanapun, waktu pas air surut itu yang pengaruh,"jelasnya.

Mustafa mengungkapkan bahwa kejadian serupa juga pernah terjadi pada 4 tahun yang lalu, dimana ikan ikannya mati secara mendadak tanpa adanya tanda - tanda apapun, hanya saja, air sungai di kala surut yang berwarna hitam pekat bercampur lumpurlah yang menurutnya penyebab kematian ikan.

"Ini Ndak ada tanda tanda apa - apa, semalam itu langsung tiba - tiba gitu pada mulai timbul mati, ini Ndak ada putusnya ni, ini kita tanggok (angkat) belum berapa menit timbul lagi,"katanya.

Di setiap ikan yang mati, pada bagian insangnya di ungkapkan oleh Mustafa selalu terdapat lumpur berwarna coklat kehitaman, yang diduga menyebabkan ikan sulit bernapas dan kemudian mati.

"Kalau pas surut, airnya itu hitam pekat, campur lumpur lagi, jadi ikan tu ndak bisa bernafas, jadi kalau dilihat ikan yang mati itu disetiap insangnya itu ada kayak lumpur lumpur,"ungkap Mustafa.

Akibat kematian puluhan ribu ikannya ini, iapun terpaksa memanen ikan - ikan yang ada lebih awal untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Ferryanto
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved