Kesiapan Rantai Pasok Konstruksi akan Tingkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pembangunan Infrastruktur

Kami mengajak masyarakat jasa konstruksi menyiapkan strategi peningkatan kinerja rantai pasok industri konstruksi.

Kesiapan Rantai Pasok Konstruksi akan Tingkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pembangunan Infrastruktur
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Industry Briefing (Launching Konstruksi Indonesia 2019) dengan tema “Rantai Pasok Konstruksi 4.0 dalam Mendukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur”, pada Selasa (10/09/2019) di Jakarta. 

Kesiapan Rantai Pasok Konstruksi akan Tingkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pembangunan Infrastruktur

JAKARTA - Pasar jasa konstruksi di Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan akan bertambah besar karena infrastruktur masih menjadi salah satu prioritas nasional dan rencana pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur.

Dukungan sistem rantai pasok konstruksi dengan memanfaatkan teknologi informasi sangat dibutuhkan guna mendukung efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan infrastruktur.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarief Burhanuddin saat menjadi narasumber pada acara Industry Briefing (Launching Konstruksi Indonesia 2019) dengan tema “Rantai Pasok Konstruksi 4.0 dalam Mendukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur”, pada Selasa (10/09/2019) di Jakarta.

Baca: Bupati Landak Karolin: 2020 Akan Dilakukan Prioritas Pembangunan Infrastruktur dan Desa

Baca: Konstruksi Tol Semarang - Demak Ditargetkan Mulai Tahun Ini

“Kami mengajak masyarakat jasa konstruksi menyiapkan strategi peningkatan kinerja rantai pasok industri konstruksi yang tidak hanya efektif, efisien, tapi juga dinamis dengan pemanfaatan teknologi,” jelas Dirjen Bina Konstruksi Syarif Burhanuddin.

Syarif mengatakan, tantangan pembangunan infrastruktur di masa mendatang semakin meningkat. Apabila melihat APBN 2020, anggaran infrastruktur direncanakan mengalami peningkatan menjadi Rp. 419,2 triliun, atau meningkat 4,9% dari tahun sebelumnya.

Ditambah lagi dengan adanya rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) yang memerlukan total pembiayaan fisik mencapai Rp 466 triliun rupiah. Hal ini menunjukkan tingginya target dan capaian pembangunan infrastruktur pada tahun 2020-2024.

Syarif mengatakan berdasarkan data Forum Konsolidasi Rantai Pasok Material dan Peralatan Konstruksi (MPK) Tahun 2019, ketersediaan material konstruksi masih terbilang beragam, baik dari sisi jenis maupun wilayah. Data menunjukkan Pulau Kalimantan menunjukkan defisit untuk kebutuhan aspal buton, baja, beton pracetak, dan beton prategang. Sementara di Sumatera, tidak tercatat adanya defisit material dan peralatan konstruksi.

“Penguatan rantai pasok industri material dan peralatan konstuksi diperlukan agar industri material dan peralatan konstruksi tidak lagi tersentralisasi di Pulau Jawa dan Sumatera,” tuturnya.

Selain rantai pasok kebutuhan material dan peralatan konstruksi, Syarif juga menekankan pentingnya kesiapan rantai pasok Sumber Daya Manusia (SDM) Tenaga Kerja Konstruksi yang telah bersertifikasi di setiap daerah.

“Untuk itu dibutuhkan pemanfaatan Teknologi dan Informasi untuk megintegrasikan data menjadi big data terkait material dan peralatan konstruksi, termasuk sebaran jumlahdan domisili tenaga kerja yang sudah bersertifikat. Sehingga semua pemangku kepentingan (stakeholder) bisa mendapatkan dan mengolah data yang sama agar lebih akurat,” tuturnya.

Halaman
12
Penulis: Hadi Sudirmansyah
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved