Aldi Yani: Udara di Pontianak Sudah Masuk Kategori Bahaya

Aldi Yani, yang hadir pada press rilis di Mapolda Kalbar mengatakan, dalam beberapa hari belakangan, kualitas udara kota Pontianak

Aldi Yani: Udara di Pontianak Sudah Masuk Kategori Bahaya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIVALDI ADE MUSLIADI
Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono memimpin langsung konferensi pers pengungkapan kasus tindak pidana pembakar hutan dan lahan, di Mapolda Kalbar, Selasa (10/9). 

Aldi Yani: Udara di Pontianak Sudah Masuk Kategori Bahaya

PONTIANAK - Kepala Dinas Perumahan, Pemukiman dan Lingkungan Hidup Provinsi Kalbar, Aldi Yani, yang hadir pada press rilis di Mapolda Kalbar mengatakan, dalam beberapa hari belakangan, kualitas udara kota Pontianak tercatat masuk dalam kondisi yang tidak sehat. Hal itu terpantau dalam suatu alat bernama PM10 atau Partikuler Martikul di bawah 10 mikron per detik.

Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), kata dia, terbagi dalam lima kategori yakni kategori sehat, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya.

Dari pengecekan yang dilakukan pihaknya, kondisi udara di Kota Pontianak tersebut sudah masuk dalam kategori berbahaya. Terlebih pada saat pagi, sampai siang hari.

“Alat itu bisa mendeteksi udara setiap 30 menit perjam. Jadi itu 24 jam. Kami mengambil jaraknya 30 menit. Tadi pagi kami lihat disini sampai pada angka 300. Artinya berbahaya. Kalau sehat 0-50. Kemudian sedang 50-100, tidak sehat 100-200, sangat tidak sehat 200-300, dan berbahaya 300-500," ujarnya, Selasa (10/9).

Baca: FOTO: Kondisi Udara di Wilayah Perkotaan Kuching Malaysia Terpapar Kabut Asap

Baca: Kondisi Udara di Pontianak Tak Sehat, Jarak Pandang Terganggu Kabut Asap

Baca: Prakiraan Cuaca BMKG di Kapuas Hulu, Potensi Hujan Hingga Suhu Udara 32 Derajat Celcius

“Namun ada beberapa wilayah di Kalbar masuk dalam rentang 300 ke atas,” sambungnya.

Udara yang terhirup, kata dia, akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang. Namun, keadaan yang akan dirasakan oleh tubuh tidak langsung terakumulasi saat itu juga.

Ia mencontohkan yang terjadi di jepang, di mana tubuh seseorang terkontaminasi dengan zat merkuri hingga rentang waktu 25 tahun lamanya baru terdeteksi.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved