Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia Luncurkan KREKI-119 Aplikasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat

KREKI sendiri merupakan akronim dari semangat yang melandasi pendirian komunitas tersebut yakni Kompeten, Responsif, Empati, Komunikatif, dan Inovatif

Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia Luncurkan KREKI-119 Aplikasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) yang merupakan program CSR dari PT IDS Medical Systems Indonesia-- menginisiasi pembentukan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) 

Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia Luncurkan KREKI-119, Aplikasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat Kesehatan

PONTIANAK - Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) yang merupakan program CSR dari PT IDS Medical Systems Indonesia-- menginisiasi pembentukan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI).

Komunitas ini berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang memungkinkan seseorang memberikan sekaligus mendapatkan pertolongan dan penanganan gawat darurat secara cepat dan tepat.

KREKI dibangun guna mendukung program Sistem Penanggulan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dalam rangka meningkatkan mutu dan kecepatan pertolongan pertama terhadap penanganan gawat darurat.

KREKI sendiri merupakan akronim dari semangat yang melandasi pendirian komunitas tersebut yakni Kompeten, Responsif, Empati, Komunikatif, dan Inovatif.

Baca: Menkeu Sri Mulyani Usulkan Iuran BPJS Kesehatan Naik Lebih Tinggi dari DJSN, Segini Besarannya

Baca: Penyuluhan Kesehatan dan Deteksi Dini Depresi pada Diabetes dengan Luka Kaki Diabetik

"Waktu menjadi unsur terpenting dalam kondisi gawat darurat. Bayangkan jika dalam kondisi tersebut orang itu tidak ditangani secara cepat dan tepat. Yang seharusnya bisa selamat, justru malah memperparah kondisi korban atau bahkan meninggal dunia. Inilah yang melatarbelakangi pembentukan komunitas ini," ungkap Ketua Umum IndoHCF, Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Sabtu (31/8/2019) sesuai rilis yang diterima Tribunpontianak.co.id

Supriyantoro mengatakan, peristiwa gawat darurat seperti kecelakaan, penyakit akibat gaya hidup tidak sehat, atau bencana alam bisa terjadi pada siapa pun, kapan pun, dan dimana pun.

Menurutnya, keadaan-keadaan tersebut membutuhkan penanganan yang tepat dan akurat agar tidak berakibat pada kecacatan permanen atau kematian.

Komunitas yang didirikan 5 Desember 2018 ini terdiri dari berbagai unsur di masyarakat baik individu maupun komunitas.

Baca: Dinas Kesehatan Singkawang Siapkan Puluhan Ribu Masker Antisipasi ISPA

Baca: Siap Bertugas, Tim Kesehatan Sebut 450 Satgas Pamtas RI Malaysia Bebas HIV/AIDS

Untuk menjadi relawan, maka orang tersebut minimal telah mendapatkan pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) singkat tentang bagaimana teknik menolong orang dalam kondisi gawa darurat seperti henti jantung, tersedak benda asing, tersengat petir dan listrik, tenggelam, cara mengangkut korban, pembidaian, dan lain sebagainya.

Halaman
12
Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved