SEJARAH, Keistimewaan, Amalan, Doa Awal & Akhir Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram / Suro

SEJARAH, Keistimewaan, Amalan, Doa Awal & Akhir Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram / Suro

SEJARAH, Keistimewaan, Amalan, Doa Awal & Akhir Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram / Suro
YouTube
SEJARAH, Keistimewaan, Amalan, Doa Awal & Akhir Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram / Suro 

SEJARAH, Keistimewaan, Amalan, Doa Awal & Akhir Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram / Suro

MUHARRAM - Sebentar lagi umat Islam akan menyambut Tahun Baru Islam 1441 H.

Tahun Baru Islam 1441 H jatuh pada tanggal 1 September.

Nah, untuk menyambut Tahun Baru Islam 1441 H, yuk simak ulasan soal peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.

Melansir dari Wikipedia, Tahun Baru Islam adalah hari yang penting bagi umat Islam.
Pasalnya, di tanggal ini terjadi peristiwa penting yakni hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Madinah.

Baca: Sambut 1 Suro, Keluarga Paguyuban Jawa Ketapang Gelar Beragam Kegiatan

Peristiwa hijrah nabi sendiri terjadi pada tahun 622 Masehi.

Awalnya, belum ada penananggalan tahun hijriyah saat peristiwa terjadi.

Sampai akhirnya hari di mana Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah dijadikan patokan penanggalan Hijriyah.

Dan peristiwa bersejarah ini terjadi pada tanggal 1 Muharram (menurut penanggalan hijriyah).

Melansir laman Tribun Jakarta, datangnya Thaun Baru Islam harus dimaknai sebagai sebuah proses perbaikan diri.

Baca: AMALAN Terbaik Anjuran Rasulullah SAW pada 1 Muharram / Suro yang Bertepatan 1 September 2019

Pasalnya, hari itu adalah hari di mana Nabi Muhammad SAW membawa Islam menjadi agama yang berjaya.

Peristiwa hijrah menjadi kebangkitan Islam yang mengandung semangat perjuangan untuk menjadi umat yang lebih baik lagi.

Karenanya, umat Islam diharapkan bisa memaknai Tahun Baru Islam dengan sebaik mungkin.

Menurut Nu.or.id, cara terbaik memaknai hari itu ialah dengan memperbanyak doa kepada Allah.

Menurut Habib Umar, jika tahun baru masehi biasanya dihabiskan dengan kegiatan foya-foya, Tahun Baru Islam harus dimaknai secara berbeda.

Baca: Rumah Seorang Warga di Desa Nanga Suruk Hangus Terbakar, Kapolsek Bunut Hulu Datangi Lokasi

Umat islam harus memperbanyak doa untuk memperbaiki diri ke depannya.

4 Hal Pembeda Kalender Masehi dan Kalender Hijriyah

Masyarakat muslim Indonesia akan menyambut tahun baru Islam yang jatuh di kalender Masehi pada 1 September 2019 dan memasuki tahun di kalender Hijriah.

Pembeda kalender masehi dan kalender hijriah tentu saja menjadi pegetahuan yang sesuai dalam rangka kita sambut tahun baru Islam.

Menyambut tahun baru hijriah, simak pembeda antara kalender masehi dan kalender hijriah.

1. Patokan

Dilansir Grid.ID dari Kompas.com, sistem penanggalan di kalender hijriyah dibuat dengan patokan perubahan fase bulan.

Perubahan fase itu dilihat dari penampakan hilal (bulan sabit tipis) ke hilalberikutnya.

Baca: Wabup Sanggau Sambut Kedatangan Jamaah Haji di Masjid Agung Al-Muawanah

Untuk kalender masehi, penanggalan dibuat dengan patokan peredaran bumi mengelilingi matahari.

Bumi yang mengelilingi Matahari dari satu titik yang disebut solstis atau equinox.

2. Kegunaan

Mengutip Intisari dari segi kegunaan, kalender masehi umumnya digunakan di seluruh dunia untuk kepentingan administrasi, sedangkan kalender hijriyah untuk keperluan ritual agama dan tradisi.

3. Jumlah Hari

Sama-sama terdiri dari 12 bulan, dua kalender ini memiliki jumlah hari yang berbeda.

Dilansir Grid.ID dari Intisari, satu tahun dalam kalender hijriyah berjumlah 354 hari atau 355 hari untuk tahun kabisat.

Baca: PDAM Tirta Pancur Aji Sanggau Harus Ada Pengawasan, Seleksi Dewas Digelar

Untuk kalender matahari, satu tahun berjumlah 365 hari atau 366 hari untuk tahun kabisat.

Jumlah tersebut didasarkan pada periode sinodis bulan untuk kalender hijriyah dan lama bumi mengelilingi matahari untuk kalender masehi.

4. Kesederhanaan

Melansir dari Kompas, kalender hijriyah dinilai lebih sederhana dari kalender masehi.

Sebelum ditetapkan sebagai kalender hijriyah, masyarakat Arab dan umat Islam di masa Nabi Muhammad telah menggunakan sistem penanggalan menggunakan bulan.

Namun di masa itu, sistem penanggalan bulan belum ditetapkan sebagai penanggalan hijriyah.

Keistimewaan Muharram

Bulan Muharram memiliki keistimewaan tersendiri.

Satu di antaranya berkaitan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah.

Baca: Forum Komunitas Hijau Apresiasi Langkah Pemkab Sanggau Komitmen Budidayakan Durian Serumbut

Rasulullah SAW menyebut, bulan Muharram menjadi bulan yang istimewa untuk memperbanyak amalan ibadah.

Dikutip Tribunnews.com dari TribunStyle.com, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah puasa pada bulan Muharram.

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:

‏أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (syahrullah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu” (HR. Muslim, no. 1982).

Lantas amalan apa saja yang bisa ditunaikan di bulan Muharram 1440 H mendatang?

Baca: REI Expo 2019 Digelar September, Masyarakat Bisa Dapat Hadiah Utama Satu Unit Rumah

Berikut ulasannya dilansir Tribunnews dari berbagai sumber:

1. Puasa

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

"Puasa yang paling afdhil setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram."

Terdapat dua amalan puasa sunnah dalam bulan Muharram.

Puasa Tasu'a

Puasa Tasu'a merupakan puasa sebelum hari 10 Muharram atau yang dilaksanakan pada 9 Muharram.

Baca: JPPR Singkawang Dorong Peningkatan Pendidikan Politik Masyarakat

Dalam riwayat dijelaskan di akhir hayatnya Rasulullah pernah berkeinginan jika ia masih hidup di tahun depan maka ia akan berpuasa pada 9 dan 10 Muharrram.

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَقُولُ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ, قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ.)) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkata, “ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa dengan tanggal 9 (Muharram).’ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.”

Puasa Asyura

Puasa Asyura merupakan puasa yang dilaksanakan pada 10 Muharram.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((…وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ.))

“… Dan puasa di hari ‘Asyura’ saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.” HR Muslim no. 1162/2746.

Baca: Forum Komunitas Hijau Apresiasi Langkah Pemkab Sanggau Komitmen Budidayakan Durian Serumbut

Puasa Asyura ini menjadi puasa yang paling dikenal masyarakat.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

(كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَه.)

“Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silakan meninggalkannya.”

Selain puasa pada 9 dan 10 Muharram, ada pula ulama yang berpendapat adanya puasa sesudah 10 Muharram yakni pada 11 Muharram.

Di antara dalil yang menyatakan ini terdapat dalam hadis Ibnu Abbas.

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah setelahnya satu hari." HR Ahmad no. 2153.

Kendati begitu, Syaikh Syu’aib dan Syaikh Al-Albani menghukumi hadits ini lemah.

Namun tentu saja bukan berarti berpuasa di 11 Muharram terlarang.

Puasa ini masih bisa dikerjakan karena termasuk pada bulan Muharram.

2. Perbanyak Amal Saleh

Seperti bulan Dzulhijjah, pada bulan Muharram, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak amalan saleh.

Tentu saja mengerjakan amalan baik di bulan istimewa akan mendapatkan pahala dan mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa ta'ala.

Memperbanyak amalan salehbisa dimulai dengan berzikir, bersedekah, hingga tilawatil quran dan mengamalkannya.

3. Bertaubat

Menyesali atas dosa dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali menjadi tugas manusia seumur hidup.

Taubat merupakan karunia dan kesempatan yang diberi Allah untuk kembali kepada-Nya.

4. Memperbanyak sedekah

Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan.

Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Baca: Forum Komunitas Hijau Apresiasi Langkah Pemkab Sanggau Komitmen Budidayakan Durian Serumbut

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلى عِيَالِهِ وَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Doa Awal dan Akhir Tahun Muharram

Dikutip dari islamicfinder.or, sebagai bulan pertama dalam Tahun Baru Islam, bulan Muharram memegang peranan yang sangat penting dalam Islam.

Doa akhir tahun dibaca sebelum memasuki Tahun Baru Islam 1441 H atau pada hari terakhir bulan Dzulhijjah.

Biasanya dibaca setelah Salat Ashar hingga sebelum Maghrib tiba.

Doa akhir tahun berisi tentang rasa syukur atas apa yang telah dicapainya selama ini dan menyebutkan harapan-harapan yang akan dilakukan saat memulai penanggalan baru.

Baca: Nuraini Puluhan Tahun Mengajar Ngaji Pakai Sepeda, Bahagia Dapat Bantuan Baznas Kabupaten Mempawah

Berikut doa akhir tahun:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَىَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَا ئَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى اَسْتَغْفِرُكَ فَغْفِرْلِى وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَ الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعَ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Lafal Latin: Bismillaahir-rahmaanir-rahiim, Wa shallallaahu ‘ala sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam. Allaahumma maa ‘amiltu fi haadzihis-sanati mimmaa nahaitani ‘anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halamta ‘alayya ba’da qudratika ‘alaa uquubati wa da’autani ilattaubati minhu ba’da jur’ati alaa ma’siyatika fa inni astaghfiruka fagfirlii wa maa ‘amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa’adtani ‘alaihits-tsawaaba fas’alukallahumma yaa kariimu yaa dzal-jalaali wal ikram an tataqabbalahuu minni wa laa taqtha’ rajaai minka yaa karim, wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa ‘aalihii wa sahbihii wa sallam

Artinya: Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau. Ya Allah Apa yang saya lakukan pada tahun ini tentang sesuatu yang Engkau larang aku melakukannya, kemudian belum bertaubat, padahal Engkau tidak meridloi (merelakannya), tidak melupakannya dan Engkau bersikap lembut kepadaku setelah Engkau berkuasa menyiksaku dan Engkau seru aku untuk bertaubat setelah aku melakukan kedurhakaan kepada-Mu, maka sungguh aku mohon ampun kepada-Mu, ampunilah aku! Dan apapun yang telah aku lakukan dari sesuatu yang Engkau ridloi dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku mohon kepada-Mu ya Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, terimalah persembahanku dan janganlah Engkau putus harapanku dari-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah! Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.

Baca: FOTO: Warga Binaan Lapas Klas II A Pontianak Mengolah Sampah Menjadi Bijih Plastik

Sementara itu, doa awal tahun dibaca pada detik-detik memasuki hari pertama awal Tahun Baru Islam 1441 H.

Doa awal tahun biasanya dibaca sebanyak tiga kali setelah Maghrib.

Doa awal tahun berisi tentang harapan harapan yang akan atau ingin dicapai selama satu tahun ke depannya.

Juga permohonan perlindungan dari Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Berikut doa awal tahun:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلاَ بَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرَمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ اَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ
اَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلاَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Lafal latin: Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam. Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa ‘alaa fadhlikal-’azhimi wujuudikal-mu’awwali, wa haadza ‘aamun jadidun qad aqbala ilaina nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa’ihi wa junuudihi wal’auna ‘alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam

Artinya: Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam (belas kasihan dan kesejahteraan) kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat Beliau. Ya Allah! Engkau Dzat Yang Kekal, yang tanpa Permulaan, Yang Awal (Pertama) dan atas kemurahan-Mu yang agung dan kedermawanan-Mu yang selalu berlebih, ini adalah tahun baru telah tiba: kami mohon kepada-Mu pada tahun ini agar terhindar (terjaga) dari godaan syetan dan semua temannya serta bala tentara (pasukannya), dan (kami mohon) pertolongan dari godaan nafsu yang selalu memerintahkan (mendorong) berbuat kejahatan, serta (kami mohon) agar kami disibukkan dengan segala yang mendekatkan diriku kepada-Mu dengan sedekat-dekatnya. Wahai Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, wahai Dzat Yang Maha Belas Kasih!

* Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Muharram 1441 H Tahun Baru Islam 1 September 2019, Sejarah Rasulullah Hijrah dari Mekah ke Madinah, https://bangka.tribunnews.com/2019/08/27/muharram-1441-h-tahun-baru-islam-1-september-2019-sejarah-rasulullah-hijrah-dari-mekah-ke-madinah?page=all.

Editor: fitriadi

(*)

Penulis: Haryanto
Editor: Haryanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved