Rentetan Gempa di Barat Daya Gunung Salak Merupakan Gempa Swarm

Rentetan gempa di Kecamatan Nanggung, di Baratdaya Gunung Salak Kab. Bogor, sejak 10 Agustus 2019 lalu hingga 24 Agustus 2019

Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Madrosid
zoom-inlihat foto Rentetan Gempa di Barat Daya Gunung Salak Merupakan Gempa Swarm
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah, di posko evakuasi Puncak Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (15/5/2012). Pesawat Sukhoi Superjet 100 jatuh di Gunung Salak Sukabumi, Jawa Barat, Rabu 3 Mei lalu saat melakukan demo penerbangan yang disebut Joy Flight. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA

Citizen Reporter
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG
Rahmat Triyono

Rentetan Gempa di Barat Daya Gunung Salak Merupakan Gempa Swarm

PONTIANAK - Rentetan gempa di Kecamatan Nanggung, di Baratdaya Gunung Salak Kab. Bogor, sejak 10 Agustus 2019 lalu hingga 24 Agustus 2019 sudah berlangsung 81 kali.

Dari sekian banyak gempa tersebut, 8 gempa di antaranya dirasakan warga. Pada 19 Agustus 2019 dirasakan 2 kali, 21 Agustus 2019 dirasakan 3 kali, 23 Agustus dirasakan 2 kali, dan 24 Agustus 2019 pagi dini baru dirasakan sekali pukul 00.52.39 WIB berkekuatan M 2,7.

Guncangan tersebut dilaporkan dirasakan di wilayah Kec. Nanggung dan sekitarnya dalam skala intensitas II-III MMI. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang bahkan terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Salah satu kejadian swarms berkekuatan M 4,0. Ini adalah yang terbesar, terjadi pada Jumat 23 Agustus 2019 pukul 11.10.59 WIB. Gempa ini menyebabkan beberapa rumah warga rusak, seperti atap/genting rumah berjatuhan, retakan dinding tembok, dan plester dinding tembok terlepas.

Puluhan rumah yang terdampak gempa ini tersebar di 5 kampung yang masing-masing berada di Desa Malasari, Kec. Nanggung, Kab. Bogor.

Baca: PSSI Kalbar Pastikan Liga 3 Zona Kalbar Tetap Digelar di Ketapang

Baca: Ambalan Muda Krisna Marta Tiahahu Harap Dapat Melatih Kecakapan dan Keterampilan Anggota Pramuka

Baca: Dandim Singkawang Sebut Kerukunan Perkokoh Rasa Persatuan dan Kesatuan

Banyak pertanyaan dilontarkan kepada BMKG terkait meningkatnya aktivitas gempa. Aktivitas gempa ini layak disebut sebagai swarm, karena gempa yang terjadi sangat banyak tetapi tidak ada yang magnitudo yang sangat menonjol.

Selain itu rata-rata magnitudo gempanya relatif kecil, kurang dari M 4,0. Klaster sebaran pusat gempa sangat lokal terkosentrasi di baratdaya Gunung Salak.

Hasil analisis mekanisme sumber salah satu gempa signifikan menunjukkan gempa dibangkitkan penyesaran kombinasi gerakan mendatar dan naik (oblique thrust fault) dengan kecenderungan strike berarah utara-selatan.

Namun demikian hingga kini belum ada referensi struktur sesar aktif yang diduga menjadi pembangkit gempa ini. Kajian Pepen Supendi dari BMKG (2018), sudah mengungkap adanya klaster gempa di barat daya Gunung Salak ini.

Di wilayah ini pernah terjadi 9 kali gempa selama periode 2011-2015 dengan magnitudo M 2,0 - M 4,6.

Peta Seismisitas Jawa Barat dan Banten periode 1990 - 2000 juga tampak adanya klaster gempa yang mencolok di baratdaya Gunung Salak.

Ini artinya aktivitas gempa Klaster Bogor sudah terjadi sejak dulu dan merupakan cerminan berlangsungnya proses pelepasan tegangan pada batuan kulit Bumi yang rapuh (brittle) di daerah tersebut.

Dalam beberapa kasus swarm juga dapat terjadi di kawasan gunungapi. Swarm dapat terjadi bilamana batuan mengalami akumulasi tegangan berkaitan aktivitas pergerakan dan tekanan magma.

Untuk menjawab apakah fenomena swarm Bogor ini berkaitan dengan aktivitas sesar (tektonik) atau vulkanisme, tampaknya masih masih perlu dilakukan kajian yang mendalam.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved