Breaking News:

Citizen Reporter

Seekor Trenggiling Ditemukan Mati di Lokasi Karhutla Desa Sungai Pelang Ketapang

Adapun lokasi ditemukannya trenggiling di lahan perkebunan masyarakat, di jalan Pelang Tumbang Titi, Dusun 4 Kanalisasi Desa Sungai Pelang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Seekor Trenggiling ditemukan mati dilokasi Karhutla di Desa Sungai Pelang, Kecamatan MHS Kabupaten Ketapang 

Di dunia, hewan yang tergolong mamalia nokturnal ini memiliki delapan spesies, empat spesies diantaranya terdapat di Asia dan empat spesies lainnya di Afrika.

Untuk menandai wilayah keberadaannya, biasanya trenggiling dengan memberikan tanda berupa kotoran dan air seninya.

Saat ini, keberadaan atau nasib Si Manis semakin laris manis sesuai namanya, karena beberapa hal salah satunya karena masih maraknya perburuan dan hilangnya habitat hidup mereka berupa hutan.

Perburuan terhadap daging dan sisik trenggiling untuk diperdagangkan menjadikan hewan ini keberadaannya dari hari ke hari semakin langka hingga terancam punah.

Baca: Bangun Posko Padamkan Kebakaran di Sungai Pelang

Baca: VIDEO: Karhutla Hanguskan SDN 17 Sidai di Bengkayang, Polisi Amankan Terduga Pelaku

Dari tahun ke tahun, data menyebutkan masih maraknya perdagangan dari sejak dulu hingga saat ini sangat memprihatinkan. Tidak bisa disangkal nasib dari hewan ini kian sulit bertahan dan berkembang biak di habitat hidupnya.

Sebagai contoh, misalnya, hewan atau satwa yang terancam punah ini semenjak 10 tahun terakhir telah diambil kurang lebih satu juta ton dari habitatnya.

Hal ini tentunya yang membuat kekhawatiran nantinya apakah trenggiling bisa bertahan hingga nanti.

Sebagian orang mempercayai, sisik trenggiling digunakan sebagai obat yang dipercayai pula berkhasiat menyembuhkan penyakit seperti kelumpuhan.

Sedangkan dagingnya diperjualbelikan untuk dikonsumsi.

Beberapa fakta tentang perburuan terhadap hewan berlidah panjang ini juga menjadi kekhawatiran bersama terkait penegakan hukum yang boleh dikata masih lemah dan cenderung diabaikan oleh para pemburu sehingga yang terjadi adalah perburuan dan perdagangan masih saja terjadi.

Dari data IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkan trenggiling dalam daftar sangat terancam punah/kritis di habitatnya (Critically Endangered- CR). 

Penulis: Nur Imam Satria
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved